Archive for February, 2011

Ujian Untuk Mengangkat Potensi

Posted: February 22, 2011 in Embun Taushiyah

Alasan Allah menguji hambanya adalah karena hamba tersebut memiliki potensi spesifik untuk mengemban ujian tersebut. Maka ketika kita merasa memiliki banyak permasalahan, yakinilah bahwa kita adalah orang yang sabar. Ketika kita mendapatkan begitu banyak godaan untuk tidak ikhlas, maka yakinilah bahwa kita ini adalah orang yang ikhlas. Ketika kita mendapatkan begitu banyak kenikmatan, jangan lupa bahwa kita adalah seorang hamba yang pandai bersyukur. Ketika kita menghadapi begitu banyak pekerjaan melelahkan, yakinilah bahwa kita adalah seorang yang kuat. Tidak ada alasan untuk mengeluh! Allah menguji hambanya sesuai dengan kadar kesanggupan seorang hamba.(QS 2:286)

Hanya saja kadang potensi spesifik tersebut tertutupi oleh sifat kontradiktif yang dominan timbul dalam keseharian seorang hamba. Kadang-kadang ada hamba tidak sabar menghadapi problematikanya. Dan kita akui bahwa kuantitas dan kualitas masalah orang tersebut melebihi kita. Sayang ketidak sabaran menjadi sifat dominannya. Padahal maksud Allah memberi banyak masalah kepadanya adalah untuk mengangkat potensinya yang terkubur – atau istilah minangnya ‘batang tarandam’ – oleh sifat kontradiktif dominan yang biasa tampak padanya. Intinya, orang tersebut sebenarnya adalah orang yang penyabar, hanya saja penyabar belum menjadi identitas orang tersebut

Kenyataan tersebut kita dapatkan pada seorang sahabat bernama Ka’ab bin Malik. Ka’ab adalah seorang sahabat yang tertinggal dalam perang tabuk, bahkan karena merasa enggan karena sudah tertinggal jauh, Ka’ab memutuskan untuk tidak ikut serta dalam perang tabuk. Ketiadaan Ka’ab dalam perang Tabuk membuat gempar para sahabat. Dan ketika pasukan muslimin telah kembali, Ka’ab diminta menghada Rasulullah untuk mengemukakan alasan ketidak hadirannya.

Ketika dia harus menghadap Rasulullah, terjadi benturan dilematis dalam benaknya, antara mengeluarkan kemampuannya: berdalih hingga ia keluar dari permasalahan tersebut, atau berterus terang. Pada akhirnya ia berterus terang. Dengarlah pengakuannya, “Ya Rasul, demi Allah, umpama sekarang ini saya sedang duduk di depan seseorang selain engkau, pasti saya akan mengutarakan sejuta alasan untuk menyelamatkan diriku. Saya pandai berdebat Ya Rasul…”

Sejatinya Ka’ab adalah seorang yang jujur, sehingga ia diuji oleh Allah dalam keadaan dilematis untuk mengungkapkan kejujurannya. Sifat kontradiktif dominannya adalah – seperti yang telah ia akui – pandai berdebat. Lihatlah akhirnya potensi kejujuran itu terangkat dan ia menjadi seorang yang jujur. Itulah buah hasil ujian dari Allah.

“Ya Rasul, sesungguhnya Allah telah menyelamatkan saya karena kebenaran pengakuan saya, maka saya berjanji untuk kelanjutan taubatku, ‘Tidak akan berbicara selama hidupku, kecuali pembicaraan itu bicara yang benar.” Ungkap Ka’ab ketika rangkaian ujian berupa pengasingan telah berakhir menimpanya.

Maka sadarilah, ketika kita berdo’a “Ya Allah, jadikanlah aku seorang hamba yang sabar.” Maka Allah mengabulkan do’a kita: Kekuatan ketabahan kita bertambah. Hanya untuk menjadikan kesabaran itu sebagai sifat dominan, Allah mengirim rentetan masalah pada kita. Begitu juga ketika kita meminta pada Allah keikhlasan dalam beramal. Yakinilah Allah mengabulkan do’a kita dan kekuatan keikhlasan kita bertambah. Dan supaya keikhlasan itu menjadi identitas kita, maka Allah menurunkan banyak godaan dalam beramal. Untuk melawan itu semua dikerahkanlah bekal yang telah Allah tambahkan. Dan jadilah apa yang kita harapkan itu menjadi identitas kita.

Advertisements

PANGGILAN KETIKA TIDUR

Posted: February 16, 2011 in Embun Taushiyah

 

Ditulis di Padang, 2002

Penampilan Indra begitu prima sore ini. Di lapangan hijau milik Old Trafold itu, ia yang sebagai play maker klub Manchaster United – menggantikan Veron yang sudah habis kontraknya – bermain begitu cemerlang dengan lima assistnya membuahkan gol semuanya.

Dan kali ini, ia mendapat kesempatan untuk melakukan tendangan bebas setelah Nistelrooy diganjal lima meter di depan kotak penalty. Ia sudah bersiap, di dampingi Beckham dan Giggs. Ia menghirup nafas, berlari, dan… BUK… sebuah tendangan ia lepaskan melewati pagar betis, meliuk, dan Gooolll….

Buffon tidak dapat menepis tendangan yang lebih hebat dari tendangan Tsubasa itu.

Penonton mulai mengelu-elukan Indra…

“Indra… Indra… Indra..”

Dalam pada itu, Indra mendengar sebuah sorakan yang nadanya agak beda.

“Indraaa…”

Alam bawah sadar Indra mencoba mengenali suara itu.

“Indraa….”

“Ya ampun, itu suara ibu kos. Saya harus bangun.” Begitu batin Indra dalam tidurnya.

“Indraaa…”

“Iya Maaaa…”

“Ada telepon dari Ibu mu.”

“Baik ma.”

Indra yang sudah sadar itu kemudian melangkah menuju ruang tengah untuk kemudian menyambut telepon dari ibunya.

Usai menelepon, Ibu kos Indra bertanya kepadanya.

“Kamu udah sholat subuh belum?”

“Belum Ma.”

“Lho, emang nggak ngedenger adzan?”

“Nggak ma. Saya kalo tidur kaya kebo deh. Nggak kepengaruh dengan yang laen.”

“Ah kamu. Udah sholat sana.”

Rekan muda, akui deh, di antara rekan muda yang mengunjungi situs ini, insya Allah ada kan yang pernah mengalami cerita yang mirip-mirip Indra? Ayo ngakuuu…

Mengapa Indra bisa mendengar panggilan ibu kosnya sedangkan panggilan adzan yang cukup kuat tidak terdengar olehnya? Apakah benar Indra itu tidurnya seperti kebo?

Sebenarnya, alam bawah sadar Indra mendengar kedua suara itu, ya panggilan adzan dan panggilan ibunya. Hanya saja dalam keadaan sadarnya, Indra sudah terbiasa cuek dengan panggilan adzan. Sedangkan dengan ibu kosnya, Indra begitu segannya sehingga ia selalu memenuhi setiap panggilan ibu kosnya.

Setujukah rekan muda dengan Indra? Indra adalah cermin bagi kita. Dalam keseharian, ada saja yang kita posisikan lebih tinggi dari Allah dalam benak kita. Kalau tidak piala dunia, ujian, game, dan sebagainya. Kadang-kadang panggilan Allah melalui muadzin untuk menyuruh kita sholat aja kita sambut setengah-setengah. Sedangkan begitu Italia bermain, wah kita buru-buru mengejarnya.

Sehingganya yang terjadi adalah alam bawah sadar kita ketika kita tidur, tidak menyambut panggilan adzan itu. Wajar saja kalau tidurnya kesiangan.

WaLlahu’alam bishshowab.

KONDISI AMBIGUITAS KADER DAKWAH

Posted: February 14, 2011 in Dakwah

Seorang aktifis dakwah kampus pernah mengeluhkan tentang kondisi kader dakwah yang – tanpa sengaja – mendikotomikan antara aktifitas dakwah dan ibadah dalam perilakunya. Ada aktifis dakwah yang yang begitu aktif – penutur tersebut mengistilahkan dengan aktifis dakwah yang ‘haroki’, namun lemah dalam hal ruhiyahnya. Dan ada pula aktifis dakwah yang rajin ibadahnya, atau kuat ruhiyahnya, namun aktifitas dakwahnya tidak menonjol.

Mungkin sudah menjadi gejala di kampusnya, karena ketika fit and proper test untuk pemilihan Badan Pengurus Harian di lembaga dakwah kampus itu, salah seorang calon ditanyakan tentang tindakannya apabila menemui dua karakter jundi yang berbeda: salah seorangnya haroki namun kurang ma’nawi, dan seorang yang lain berkebalikannya.

Apakah gejala di kampus itu juga menjadi gejala nasional? Bisa saja banyak aktifis dakwah yang seperti ini. Karena saya sudah lama mendengar masalah ini diperbincangkan oleh aktifis dakwah. Tapi saya yakin, ada banyak lagi kader dakwah yang mampu tawazun, yang mampu menyeimbangkan dedikasinya pada umat dalam kegiatan-kegiatannya yang berlapis-lapis, dan ‘ubudiyahnya dalam bentuk ibadah mahdoh. Banyak kader yang mampu menjadi – seperti adagium dalam dakwah – fursanun fi nahar, wa ruhbanun fillail.

Aktifis dakwah ada yang mengambing-hitamkan kegiatan dakwahnya. Ketika sibuk dalam kegiatan yang padat, maka seorang aktifis menjadi cemburu dengan kegiatan itu. Ia merasa kegiatan-kegiatan itu mengurangi waktunya untuk berubudiyah kepada Allah. Penyebab kelelahan hingga ia tak mampu memenuhi target amalan yauminya.

Meski salah dalam beralasan, penyesalan atas kesempatan ‘ubudiyah yang hilang masih jauh lebih baik dibanding tidak memiliki penyesalan sama sekali. Berbahaya apabila kelelahan karena aktifitas yang padat itu menjadi justifikasi atas kosongnya tilawah dalam sehari, atau penuhnya malam dengan mimpi. Aktifis dakwah menganggap sebagai suatu hal yang biasa, tertinggalnya beberapa amalan yang memperkuat ruhiyahnya, karena aktifitas yang padat merupakan kompensasi dari amalan-amalan itu.

Hal ini tentu tidaklah bijak. Karena kalau kita mengetahui, aktifitas para sahabat begitu luarbiasa sibuknya, namun mereka tidak pernah tinggal untuk menikmati malam dengan munajat kepada-Nya. Perbandingan yang terdekat adalah dengan para mujahidin di negeri-negeri yang berkecambuk. Sebuah film dokumentasi perang jihad Afghanistan dan Chechnya memperlihatkan para mujahidin menyempatkan diri membaca Al-Qur’an. Padahal ketika itu keadaan sedang tidak aman. Terpancar dari raut wajah mereka kegembiraan ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Kita belumlah memanggul senjata beserta ratusan pelurunya yang berat. Kita tidaklah berjalan begitu jauh, mendaki gunung menerobos belukar, bertahan dalam cuaca yang tidak bersahabat. Sebuah kegiatan yang melelahkan. Jauh perbandingan kelelahan antara kita dengan para mujahidin itu.

Kebaikan aktifis ‘haroki’ dan ‘ma’nawi’

Seorang aktifis dakwah yang ‘haroki’, biasanya ia juga seorang yang memiliki pemahaman yang bagus. Saya berpendapat keharokian itu linier dengan keilmuan yang luas. Dan begitulah yang saya temui di lapangan. Mungkin karena mereka adalah orang yang terbiasa dengan syuro, di mana pada syuro terjadi banyak pemaparan argumen.

Tentu baik apabila seorang aktifis dakwah memiliki wawasan yang luas. Dengannya, roda dakwah dapat berputar pada arah yang benar. Sekaligus juga, keaktifannya itulah yang menjalankan roda dakwah tersebut.

Bagi pribadinya, pemahaman yang baik dapat mencegahnya dari gugur di jalan dakwah. Bukankah dalam sebuah riwayat, setan lebih takut dengan seseorang yang memiliki pemahaman yang tinggi yang sedang tidur di dalam masjid, daripada seseorang yang sedang sholat dalam masjid tersebut. Hal ini karena seseorang yang memiliki pemahaman yang baik, sulit bagi setan untuk menipunya.

Dan seseorang aktifis dakwah yang ibadah mahdhohnya terjaga dengan baik, akan memiliki ma’nawi yang terpancar kuat. Kedekatan kepada Ilahi akan membuat dirinya berwibawa di tengah-tengah orang banyak. Dan apabila ia berdakwah, maka dakwahnya akan lebih mudah menembus hati objek dakwah. Apabila roda dakwah dijalankan oleh orang-orang yang seperti ini, tentu roda dakwah itu akan sangat efektif. Tarbawi dalam sebuah edisi pernah menulis: Ruhiyah kelam dakwah tenggelam, ruhiyah bersinar dakwah pun lancar.

Quwatu shillah billah (kekuatan hubungan dengan Allah) adalah hal yang efektif mencegah dirinya gugur dari jalan dakwah. Ketika permasalah rumit menekannya untuk keluar dari jalan dakwah, ia memiliki tempat bersandar yang begitu empuk: Allah swt. Dzat inilah yang memeliharanya untuk tetap di jalan dakwah, dan senantiasa memberinya taufiq serta furqon agar dapat melihat keadaan lebih jelas.

Lemahnya salah satu kondisi berakibat pribadi yang timpang

Tentu penting untuk memiliki kedua karakter ini pada diri kita. Lemahnya salah satu karakter akan membuat pribadi kita adalah pribadi da’i yang timpang.

Orang yang aktif namun tidak memiliki ruhiyah yang baik, maka berpotensi untuk menjadi orang yang jenuh dengan kepadatan aktifitas tersebut. Tidak tahan mental ketika tertimpa masalah. Lemah dalam ikhlas. Pemahamannya tidak mampu menopangnya untuk tetap berada di jalan dakwah. Sekalipun ia paham bahwa sesuatu itu salah, namun karena kurangnya kedekatan dengan Tuhannya, ia akan tetap melaksanakan sesuatu itu.

Orang yang kuat ruhiyahnya namun malas untuk aktif dalam kepadatan kegiatan dakwah, maka jadilah ia seorang yang sholih tetapi tidak muslih. Ia berpotensi menjadi seseorang yang mudah kecewa pada jama’ah, karena kurangnya pemahaman yang ia miliki.

Ruhiyah adalah inspirasi kita bergerak. Roda dakwah yang berjalan dengan terarah dan lincah, apabila yang menjalankannya kehabisan tenaga, maka roda itu tidak akan bisa berjalan lagi. Sesungguhnya sumber tenaga itu adalah kualitas ruhiyah yang baik.

Jadilah orang yang lengkap. Sebagai penutup, saya ilustrasikan seorang aktifis dakwah yang ideal adalah seperti gambaran mujahidin perang Padri yang dipimpin oleh Imam Bonjol: Al-Qur’an di tangan kirinya dan pedang di tangan kanannya.