Archive for the ‘Tarbiyah Muda’ Category

MA’RIFATUL INSAN

Posted: June 9, 2007 in Tarbiyah Muda

I am thinking therefore I am (Socrates)

Berani menjejakkan kaki di permukaan bumi tanpa mengenal jati diri, itu perbuatan yang sangat riskan. Bisa saja kita survive, tapi kita akan kehilangan banyak hal. Karena hidup itu memiliki mimpinya sendiri, maka salah satu yang akan sulit kita raih adalah impian (visi) tersebut. Karena hidup memiliki misi tersendiri, maka kehidupan yang tidak mengenal jati dirinya, akan melalaikan misi itu..

The Human, in Islamic Paradigm

Manusia adalah makhluk yang paling mencengangkan di alam semesta ini. Manusia ianugerahi akal. Bahkan akal tersebut digunakannya lagi untuk kerja rekursif: memikirkan hakekat dirinya sendiri, hakekat eksistensinya yang unik di jagad raya.

Maka berbagai disiplin ilmu ikut andil mempelajari manusia. Mulai dari filsafat, psikologi, sosiologi, teologi, ekonomi, dsb. Berbagai disiplin ilmu itu memandang manusia dari berbagai sudut dimana disiplin ilmu itu berdiri, dan menggunakan kacamata egocentris: memandang manusia berdasarkan bingkai disiplin ilmu tersebut. Sehingganya, tak satu pun yang utuh menjabarkan manusia secara sempurna.

Andai kata kita mencoba memahami diri kita sendiri menggunakan akal yang kita miliki, maka keterbatasan yang menjadi sifat mutlak manusia akan membenturkan kita untuk mendapatkan jawaban yang utuh mengenai teka-teki yang hebat ini. Tapi Allah SWT, yang telah menciptakan manusia dengan tangan kanan-Nya sendiri – dan semua tangan Allah adalah kanan, telah memberikan petunjuk mengenai manusia yang tertuang dalam wahyu. Dasar yang tepat dalam berteori tentang eksistensi manusia.

Manusia memiliki tiga unsur: hati, akal dan jasad. Hati membentuk keputusan yang bersumber dari keyakinan (Qs 75:14), memiliki kehendak (Qs 18:29) dan kebebasan memilih (Qs 90:10). Akal Allah berikan, mampu membentuk pengetahuan (Qs. 17:36). Sedangkan jasad adalah unsur yang melakukan amal (Qs. 9:105).

Dengan akal, hati, dan jasad manusia dapat beribadah.


Untuk apa manusia diciptakan?

Prespektif Islam menjawab semua ini.

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mukmin:115)

1. Untuk beribadah kepada Allah SWT

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariat : 56).

Semua ciptaan Allah selaras menyembah-Nya. Hal ini adalah sebuah sunnatullah. Sejalan dengan itu, manusia pun pada hakikatnya diciptakan untuk menyembah Allah swt. Hanya saja pada penyembahan itu, manusia memiliki freewill apakah dia hendak menyembah-Nya atau tidak. Kebebasan kehendak itu pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan.

“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (An-Nur:41)

2. Untuk menjadi khalifah di Bumi

“…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya…” (Qs. Hud:61).

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”…” (Qs. 2:30).

Sejatinya, manusia adalah makhluk pembangun yang cerdas untuk bumi ini. Tetapi, kita malah melihat kerusakan di mana-mana. Ozon yang bocor, pemanasan global, hingga terumbu karang yang terancam punah.

Manusia telah menyetujui untuk memikul amanat yang ditawarkan oleh Allah. Hanya saja, kebodohan dan kezaliman yang lekat pada manusia telah memalingkannya dari misi yang utama ini.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh. (Qs. Al-Ahzab:72).

3. Sebagai ujian, siapakah di antara kita yang lebih baik amalnya.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Al-Mulk:2).

Allah telah menggelar kompetisi di bumi ini, yang kelak akan menentukan gelar khoirul bariyyah (sebaik-baik makhluk, Qs 98:7), dan syarrul bariyyah (makhluk yang buruk Qs 98:6).

Sifat-sifat Manusia

Beberapa berikut ini adalah watak dasar manusia. Manusia memiliki watak yang kebanyakan buruk. Lalu Islam datang untuk meng-upgrade watak-watak manusia, sehingga meninggalkan watak yang buruk dan memiliki watak yang baik sebagai identitas seorang mukmin.

Sifat dasar manusia itu antara lain:

Tergesa-gesa (17:11, 21:37)

Berkeluh kesah (70:19, 90:4)

Gelisah (70:20)

Tak mau berbuat baik (70:21)

Pelit (17:100)

Kufur (14:34)

Pendebat (18:54)

Pembantah (100:6)

Zalim (14:34)

Jahil (33:72)

Coba periksa adakah sifat-sifat tersebut pada diri kita?

Sesungguhnya sifat-sifat tersebut adalah sifat dasar manusia. Seorang mukmin seharusnya telah ter-upgrade wataknya, tidak lagi memiliki sifat-sifat dasar tersebut.

MA’RIFATULLAH

Posted: June 9, 2007 in Tarbiyah Muda

”Dan , ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka : “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul , kami menjadi saksi”.  agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami  adalah orang-orang yang lengah terhadap ini, atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang  sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu ?” (Al-A’raf 172-173)

 

Pentingnya Mengenal Allah

Tujuan Allah menghidupkan manusia di bumi adalah agar manusia beribadah kepada Allah swt. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”(Adz-dzariat : 56).

Seseorang yang mengenal Allah SWT, akan tahu akan tujuan hidupnya, tujuan mengapa ia dicipitakan dan untuk apa ia berada di atas dunia. Sebaliknya, seseorang yang tidak mengenal Allah tentu ia akan terpedaya dan terpukau oleh indahnya dunia, yang pada gilirannya ia habiskan umurnya untuk mencari dunia dan menikmatinya.

Allah memperkenalkan diri-Nya ketika Allah mengambil janji kepada manusia ketika sebelum manusia lahir.(Al-A’raf 172). Kemudian, eksistensi Allah telah tertanam dalam inner-conciousness (kesadaran diri) manusia. Sehingga secara naluriah, sebenarnya manusia mengenal adanya pemilik kekuatan yang agung di dunia ini. Hanya kemudian, pada pencarian akan ‘Pemilik Kekuatan Yang Agung’, sering terjadi salah sasaran. Yang disembah oleh manusia sering kali justru ciptaan Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri.

Naluri ini dimiliki oleh seluruh manusia. Ada pun orang yang tidak mengakui adanya Tuhan, maka dia telah menentang nalurinya sendiri. Menurut Yusuf Qaradawi dalam bukunya ‘Wujudullah’, Al-Qur’an tidak pernah membahas mengenai orang yang tidak mempercayai Tuhan. Yang Al-Qur’an bahas adalah mengenai orang-orang yang salah sasaran dalam menyembah Al-Qur’an.

Seorang yang mengenal Allah, tidak akan salah sasaran dalam beribadah.

Seorang muslim yang mengenal Allah, akan merasakan kehidupan yang lapang walau bagaimanapun keadaannya. Ketika dalam kesulitan, ia akan sabar. Dan dalam kelapangan, ia akan bersyukur. Ini karena ia mengenal Allah, bahwa Allah-lah yang telah mengatur kehidupannya. Dan Allah tidak pernah berbuat zholim kepada hamba-Nya.

“Amat mengherankan terhadap urusan mukmin, semuanya, hal itu tidak terdapat kecuali pada mukmin, bila ditimpa musibah ia sabar, dan bila diberi nikmat ia bersyukur.” (Hadits riwayat Muslim).

Orang yang tidak mengenal Allah, maka akan merasakan sempitnya kehidupan.

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaaha: 124).

Seseorang yang mengenal Allah akan selalu mengharap ridho-Nya dalam setiap perbuatannya, dalam perjalan hidupnya. Lain halnya dengan orang yang tidak mengenal Allah, ia berbuat berdasarkan kemuan syahwat dan kehendak nafsunya. Jadilah hawa nafsunya Tuhan selain Allah yang memerintah dan melarangnya.

 

Jalan Mengenal Allah

1. Mengenal Allah lewat Akal

Allah menciptakan akal untuk kita sebagai salah satu perangkat untuk mengolah alam semesta. Dan Allah menyempurnakan akal kita agar mampu memahami keberadaan-Nya. Mengenal Allah tidak hanya bisa didasarkan pada faith (kepercayaan). Karena dengan fikiran yang shidiq, maka Allah akan terwujud jelas keberadaan-Nya.

“Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya.  Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. “Ar-Ra’du : 3”

Hal ini berbeda sekali dengan kepercayaan lain, yang mau tidak mau pemeluknya harus bersandar pada faith untuk mengenali tuhannya. Contohnya, apapun logika yang dihidangkan untuk mengkonsumsi kepercayaan trinitas, akan menjadi mentah kembali dan tak berguna. Tak ada yang sanggup menghadirkan trinitas dalam logika seorang manusia.

Ada dua fenomena yang dapat diamati dan dipelajari dalam rangka mengenal Allah SWT dengan menggunakan potensi akal yang diberikan-Nya kepada kita. Yaitu:

a. Ayat Kauniyah

Yaitu ayat-ayat yang terdapat di alam semesta. Kita tidak akan sanggup memikirkan dzat Allah. Tapi yang harus kita pikirkan adalah ciptaan Allah SWT. Keseimbangan penciptaan seharusnya telah membunuh kecurigaan bahwa segala sesuatu terjadi dengan sendirinya di bumi ini. Konsep serba ‘kebetulan’ hanya menjadi takhayul kalau kita memindai alam ini, dan menyimpulkan secara jujur.

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?  (Al-Mulk:2)”

b. Ayat Qouliyah.

Yaitu ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an yang senantiasa kita baca sehari-hari.

Bila nabi dan rasul terdahulu memperkenalkan Allah kepada kaumnya dengan menggunakan mu’jizat, seperti itu juga Rasulullah Muhammad SAW. Begitu banyak mu’jizat terjadi di zaman Rasulullah. Hanya mu’jizat yang tetap bertahan setelah Rasulullah tiada, adalah Al-Qur’an. Inilah mu’jizat agung yang membuat orang yang memahaminya akan terpukau.

Begitu banyak orang yang takluk kesombongannya oleh Al-Qur’an. Mulai dari ilmuwan seperti Maurice Brucille, sampai seniman seperti Cat Steven. Mereka semua masuk Islam diperantarai Al-Qur’an.

2. Mengenal Allah lewat Asma’ul Husna.

Allah memperkenalkan diri-Nya melalui asma’ul husna, atau nama-nama baik yang dimiliki oleh Allah. Perkenalan ini adalah perkenalan tingkat lanjut. Karena hanya orang yang telah yakin akan adanya Allah, yang bisa mengenal Allah melalui asma’ul husna.

Nama-nama Allah tersebut terdapat 99 nama. Sifat-sifat Allah tertuang dalam nama-nama ini.

 

^*&^&*^%&^%&*&(*(**(*&*&^&^

 

Bahan Diskusi:

Seorang Atheis tidak mempercayai Tuhan karena mereka tidak melihatnya. Bagaimana pandangan kalian?

Apakah kita harus mempercayai hal yang dapat kita lihat saja? Lalu bagaimana dengan arus listrik, medan magnet, medan gravitasi, dll? Bagaimana dengan akal kita sendiri? Apakah kita mampu melihatnya?

Tuhan telah menitipkan kemampuan mengenal-Nya pada naluri/fitrah dan akal kita.Diperlukan kepekaan naluri yang bersih untuk mengenali keberadaan-Nya. Dan diperlukan akal yang jujur. Arus listrik, medan magnet, medan gravitasi, semua itu diketahui keberadaannya karena terasa efeknya. Begitu juga dengan Tuhan, kita mengenali-Nya dari karya-Nya yang agung.

Sedangkan melihat matahari saja kita tidak mampu, lalu bagaimana dengan melihat Tuhan?

Perumpamaan seseorang yang menolak kehadiran Tuhan berlandaskan logikanya, ialah seperti seorang yang melihat pensil yang dimasukkan ke dalam air, sehingga pensil itu tampak seperti bengkok/patah. Ketika dikatakan padanya bahwa pensil itu lurus, dan pandangan ini terjadi karena pembiasan cahaya di dalam air, orang tersebut tidak percaya dan tetap ‘kekeh’ dengan pendiriannya bahwa pensil itu bengkok.

Akalnya hanya sampai segitu. Belum mampu menangkap yang terjadi sesungguhnya. Dan ketahuilah, akal manusia memiliki keterbatasan.

Ajak peserta mentoring untuk melihat karya-karya Harun Yahya, atau situsnya. Pinjamkan mereka vcd-vcd Harun Yahya. Itulah makanya, seorang murobbi perlu modal juga. 😀

 

Maroji’:

  1. Wujudullah, Yusuf Qaradawi.
  2. Sumber lainnya.

Sengseng sawah, 1 Januari 2006.