Archive for March, 2011

Ceng-ceng-an…

Posted: March 11, 2011 in Embun Taushiyah

Salah satu bumbu dalam pergaulan adalah kebiasaan mengejek, mengolok-olok, merendahkan, atau dalam bahasa gaul disebut ‘nge-ceng-in orang’. Kok disebut ‘bumbu dalam pergaulan’? Seharusnya disebut ‘bug dalam pergaulan’ ya?

Yah, diakui bahwa ejekan sendiri bisa jadi sebagai pemanis dalam pergaulan. Asal jangan ada yang tersinggung. Saling mengejek menjadi bumbu dalam pergaulan kalau memang dimaksudkan sebagai bahan candaan. Tapi bagaimanapun juga, tetap mempunyai kemungkinan untuk menumbuhkan perasaan sakit dalam hati. Ya, liat liat dulu lah ceng-cengannya gimana… 🙂

Kalau sifat air itu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, sifat angin bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan yang rendah, maka sifat cemoohan juga begitu, dari orang yang punya kelebihan kepada orang yang punya kelemahan.

Logikanya harusnya seperti itu, kan? Orang yang langsing akan mengejek orang yang gendut, orang yang lancar bicaranya akan mengejek orang yang gagap, orang yang ganteng akan mengejek orang yang jelek, dst. Bahan ejekan, tentu yang dianggap kekurangan pada objek yang diejek.

Lalu, mengapa Allah SWT SWT mengatakan bahwa bisa jadi yang diejek lebih baik dari yang mengejek?

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik…” Qs Al-Hujuraat:11.

Jadi, bisa terjadi salah sasaran, begitu ya? Memang bisa begitu!!!

Secara sadar/tidak sadar, kadang penonton sepak bola sering mengejek pemain. Kata-kata “halaah… Rooney… dasar gendut, gak bisa lari…”, atau ‘huh… Materazzi, udah tua… bikin blunder mlulu…”. Kalau yang melontarkan itu Pele sih, mungkin bisa diperbandingkan. Lah, kalau yang menonton itu orang biasa, ya terjadi lah seperti yang Allah katakan, yang direndahkan lebih baik dari yang merendahkan.

Memang hal yang spesifik yang diejek, tapi dari hal yang spesifik itu sendiri rupanya yang diejek itu malah jauh lebih baik dari yang mengejek.

‘//———————————————-//’

Manusia punya kelebihan dan kekurangan sekaligus. Tidak ada manusia yang sempurna. Bisa saja seseorang punya kelebihan berupa kecerdasan, tapi fisiknya tidak begitu baik. Atau sebaliknya.

Kecerdasan pun bermacam-macam. Misalnya di SMU ada anak yang jago matematika, tapi lemah di pelajaran ekonomi, sehingga masuk jurusan IPA. Atau ada yang jago logika, tapi hafalannya lemah. Ada yang IQ-nya tinggi tapi EQ-nya lemah, atau sebaliknya. Ada yang jago programming tapi buta networking, atau sebaliknya.

Intinya, kelebihan manusia itu spesifik!

Jadi, seharusnya tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi satu sama lain. Karena masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Begitu? Memahami firman Allah SWT di atas, mengapa Allah SWT – secara general – seolah-olah membagi manusia ada yang lebih baik dari yang lain?

Allah SWT. punya pandangan subjektif sendiri terhadap seseorang. Hadits ke-8 bab “Ikhlas dan Niat Dalam Segala Perilaku Kehidupan” buku ‘Riyadush-Sholihin’ karangan Imam Nawawi berbunyi,

“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian, tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada hati kalian.” (HR Muslim).

Juga pada surat Al-Hujuraat ayat 13, “…Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu…”

Dan ada beberapa dalil naqli lain yang menyiratkan hal serupa. Allah mengukur dari hati dan ketaqwaan seseorang. Allah punya timbangan sendiri sehingga Ia menilai mana yang lebih baik dari yang lain.

Ada sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana keimanan dan ketaqwaan mampu menutupi kelemahan spesifik seseorang. Ketika Ibnu Mas’ud sedang memanjat pohon, tersingkaplah betisnya. Seorang sahabat menertawakan betisnya yang kecil. Lalu Rasulullah berkata bahwa betis Ibnu Mas’ud yang kecil itu memiliki bobot yang lebih besar dari gunung Uhud. Sontak sahabat yang menertawakan tersebut menyatakan penyesalannya.

Abdullah bin Mas’ud adalah seseorang sahabat yang ‘Pakar Qur’an/tafsir’ di zamannya, zaman Rasulullah dan sahabat!!!

‘//————————————————–//’

Suatu hari saat saya sedang berada di suatu perkumpulan. Saat itu saya menyindir anggota dewan yang meminta fasilitas laptop. Seorang ustadz yang berada di situ mengingatkan saya tentang Al-Hujurat ayat 11 ini. Saya jadi malu saat itu.

Saat itu, kalau dibilang saya mengkritik anggota dewan, kok nggak di hadapannya langsung? Jadinya, ya mengejek atau ghibah. Allahummaghfirlanaa wa lahum.

Pernah Bilal r.a dipanggil dengan sebutan ‘hai hitam!’. Bilal memang seorang sahabat mantan budak yang berkulit hitam. Mendengar panggilan seperti itu, Rasulullah berkata kepada sahabat yang memanggil Bilal dengan sebutan seperti itu, “Engkau masih memiliki prilaku jahiliyah!”.

Yah… selamat bergaul, hati-hati dalam ceng-ceng-an 😉

Ikatan Abadi

Posted: March 3, 2011 in Embun Taushiyah

Tulisan ini sudah pernah saya post di beberapa tempat di internet. Pertama kali dimuat di majalah Sabili No 26 Th VIII 20 Juni 2001/28 Rabiul Awal 1422. Tapi saya yakin masih banyak yang belum membacanya. Semoga tidak basi. 🙂

Persaudaraan. Kata tersebut terasa indah didengar. Bila diucapkan, yang terbayang di benak kita adalah keakraban, kedamaian, kasih sayang, persatuan, cinta dan banyak lagi kata manis lainnya.

Untaian kata itu terasa manis lantaran fitrah manusia memang cenderung kepada hal-hal tersebut. Sejak kanak-kanak, Allah memperkenalkan kepada manusia indahnya kekompakan yang dipaket dalam bentuk permainan secara kolektif dengan anak-anak lain. Saat itu kita tertawa bersama, bekerja bersama, dan kadang dibumbui dengan sedikit perselisihan yang justru makin memaniskan persaudaraan. Hati bersih kanak-kanak kita merekam semua keindahan tersebut. Tak ada kedengkian dan dendam. Yang ada hanyalah maaf dan senda gurau yang menghapus segala permusuhan sebelumnya.

Kini, kekerasan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Akibatnya mereka tumbuh menjadi bangsa yang lemah-lunglai didera kehidupan yang makin keras. Kasih sayang adalah barang langka. Tangan-tangan suci telah berlumuran darah. Nurani kita kembali menggugat, merindukan keindahan rasa persaudaraan itu.

Seindah-indahnya persaudaraan adalah puncaknya yang tak tertandingi. Itulah ukhuwah islamiyah. Ia dipautkan dengan ikatan abadi yang berlandaskan aqidah. Adapun bentuk persaudaraan yang lain hanya dilandasi ikatan suku, kekeluargaan, nasionalisme, materi dan berbagai ikatan non akidah lainnya yang fana. Ikatan kekeluargaan biasanya hilang saat terjadi perebutan harta warisan. Ikatan materi pupus saat masing-masing komponen memperoleh tujuan yang diinginkannya. Ikatan suku hilang saat terjadi perkawinan atau adanya asimilasi antar suku. Nasionalisme akan lenyap ditelan globalisasi dan arus informasi. Namun ikatan aqidah bisa menembus waktu, tempat dan semua kepentingan. Ia abadi sampai Allah menghancurkan semua yang ada di langit dan di bumi.

Di akhirat nanti, komponen-komponen dalam ikatan keluarga atau keturunan tidak akan mampu saling tolong. Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), “pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS ‘Abasa : 33-37)

Adapun orang-orang yang ingi memutuskan tali agama Allah, ikatan mereka sangat rapuh. Meski di luar tampak merapatkan barisan, hati mereka sesungguhnya saling berseberangan. Apalagi kalau secara materi ada salah satu pihak yang merasa dirugikan. Permusuhan dalam bentuk yang paling kasar pun kerap tak bisa dielakkan. (Al-Hasyr : 14).

Sebaliknya orang-orang yang beriman, ikatan mereka kekal sampai ke surga. Mereka akan mendapatkan naungan Allah, saat tidak ada keteduhan dan perlindungan selain di bawah naungan-Nya. Pada hari kiamat mereka menempati mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya lantaran ikatan aqidah mereka di dunia. Orang-orang beriman duduk-duduk di dipan surga. Itulah akhir dari ikatan abadi.