Archive for June, 2007

MA’RIFATUL INSAN

Posted: June 9, 2007 in Tarbiyah Muda

I am thinking therefore I am (Socrates)

Berani menjejakkan kaki di permukaan bumi tanpa mengenal jati diri, itu perbuatan yang sangat riskan. Bisa saja kita survive, tapi kita akan kehilangan banyak hal. Karena hidup itu memiliki mimpinya sendiri, maka salah satu yang akan sulit kita raih adalah impian (visi) tersebut. Karena hidup memiliki misi tersendiri, maka kehidupan yang tidak mengenal jati dirinya, akan melalaikan misi itu..

The Human, in Islamic Paradigm

Manusia adalah makhluk yang paling mencengangkan di alam semesta ini. Manusia ianugerahi akal. Bahkan akal tersebut digunakannya lagi untuk kerja rekursif: memikirkan hakekat dirinya sendiri, hakekat eksistensinya yang unik di jagad raya.

Maka berbagai disiplin ilmu ikut andil mempelajari manusia. Mulai dari filsafat, psikologi, sosiologi, teologi, ekonomi, dsb. Berbagai disiplin ilmu itu memandang manusia dari berbagai sudut dimana disiplin ilmu itu berdiri, dan menggunakan kacamata egocentris: memandang manusia berdasarkan bingkai disiplin ilmu tersebut. Sehingganya, tak satu pun yang utuh menjabarkan manusia secara sempurna.

Andai kata kita mencoba memahami diri kita sendiri menggunakan akal yang kita miliki, maka keterbatasan yang menjadi sifat mutlak manusia akan membenturkan kita untuk mendapatkan jawaban yang utuh mengenai teka-teki yang hebat ini. Tapi Allah SWT, yang telah menciptakan manusia dengan tangan kanan-Nya sendiri – dan semua tangan Allah adalah kanan, telah memberikan petunjuk mengenai manusia yang tertuang dalam wahyu. Dasar yang tepat dalam berteori tentang eksistensi manusia.

Manusia memiliki tiga unsur: hati, akal dan jasad. Hati membentuk keputusan yang bersumber dari keyakinan (Qs 75:14), memiliki kehendak (Qs 18:29) dan kebebasan memilih (Qs 90:10). Akal Allah berikan, mampu membentuk pengetahuan (Qs. 17:36). Sedangkan jasad adalah unsur yang melakukan amal (Qs. 9:105).

Dengan akal, hati, dan jasad manusia dapat beribadah.


Untuk apa manusia diciptakan?

Prespektif Islam menjawab semua ini.

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mukmin:115)

1. Untuk beribadah kepada Allah SWT

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariat : 56).

Semua ciptaan Allah selaras menyembah-Nya. Hal ini adalah sebuah sunnatullah. Sejalan dengan itu, manusia pun pada hakikatnya diciptakan untuk menyembah Allah swt. Hanya saja pada penyembahan itu, manusia memiliki freewill apakah dia hendak menyembah-Nya atau tidak. Kebebasan kehendak itu pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan.

“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (An-Nur:41)

2. Untuk menjadi khalifah di Bumi

“…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya…” (Qs. Hud:61).

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”…” (Qs. 2:30).

Sejatinya, manusia adalah makhluk pembangun yang cerdas untuk bumi ini. Tetapi, kita malah melihat kerusakan di mana-mana. Ozon yang bocor, pemanasan global, hingga terumbu karang yang terancam punah.

Manusia telah menyetujui untuk memikul amanat yang ditawarkan oleh Allah. Hanya saja, kebodohan dan kezaliman yang lekat pada manusia telah memalingkannya dari misi yang utama ini.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh. (Qs. Al-Ahzab:72).

3. Sebagai ujian, siapakah di antara kita yang lebih baik amalnya.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Al-Mulk:2).

Allah telah menggelar kompetisi di bumi ini, yang kelak akan menentukan gelar khoirul bariyyah (sebaik-baik makhluk, Qs 98:7), dan syarrul bariyyah (makhluk yang buruk Qs 98:6).

Sifat-sifat Manusia

Beberapa berikut ini adalah watak dasar manusia. Manusia memiliki watak yang kebanyakan buruk. Lalu Islam datang untuk meng-upgrade watak-watak manusia, sehingga meninggalkan watak yang buruk dan memiliki watak yang baik sebagai identitas seorang mukmin.

Sifat dasar manusia itu antara lain:

Tergesa-gesa (17:11, 21:37)

Berkeluh kesah (70:19, 90:4)

Gelisah (70:20)

Tak mau berbuat baik (70:21)

Pelit (17:100)

Kufur (14:34)

Pendebat (18:54)

Pembantah (100:6)

Zalim (14:34)

Jahil (33:72)

Coba periksa adakah sifat-sifat tersebut pada diri kita?

Sesungguhnya sifat-sifat tersebut adalah sifat dasar manusia. Seorang mukmin seharusnya telah ter-upgrade wataknya, tidak lagi memiliki sifat-sifat dasar tersebut.

Advertisements

Bersyukurlah

Posted: June 9, 2007 in Embun Taushiyah

Rekan muda, setiap manusia selalu berada pada nikmat yang harus disyukurinya, serta dosa yang harus dia mintakan ampunan kepada Allah. Dalam satu detik, entah berapa banyak nikmat yang harus kita syukuri. Dalam keadaan bersamaan itu, kita diberi nikmat penglihatan oleh Allah, kita diberi nikmat pendengaran, diberi nikmat mengalirnya aliran darah, nafas, detak jantung yang normal, otak yang mencerna, dll. Dari semua itu, adakah salah satunya saja yang secara bersamaan kita syukuri keberadaannya?

Rekan muda, takutlah akan keadaan tak mampunya kita bersyukur kepada Allah. Takutlah kita akan keadaan tak peduli dengan rasa syukur. Cirinya adalah ketika hati kita tak tersentuh, bahkan merasa bosan dengan apa yang diucapkan oleh khotib-khotib di mimbar ketika sholat jum’at atau apa yang diucapkan oleh orang yang sedang mengisi suatu rapat atau kultum, ketika mereka mengucapkan “Marilah kita mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan.” Apabila di hati kita terucap, “ah bosen, itu-itu mlulu yang diulang,” maka bisa jadi itu adalah pertanda bahwa hati kita sudah tidak peka lagi dengan rasa bersyukur. Atau kita memang selama ini tidak peduli dengan rasa syukur.

Banyak yang bisa kita syukuri, dan semua itu pasti akan dipertanggung jawabkan kepada Allah swt. Menurut pendistribusiannya, ada dua macam nikmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia: Nikmat yang diberikan bagi manusia secara general, dan nikmat yang diberikan secara khusus untuk kita seorang.

Begitu banyak Allah ceritakan tentang nikmat-nikmat yang diberikannya kepada manusia, dan manusia sering lalai dalam mensyukurinya. Dengarlah apa yang Allah katakan dalam surat ‘abasa 24-32:

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudia Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian dari bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitu dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang ternakmu.”

Rekan muda, perhatikanlah nikmat Allah yang sudah sering kita dengar ini, namun jarang kita tersentuh untuk mensyukurinya, mendiskusikannya dalam hati kita, hingga ketika sujud kita pun menangis merenungi keberadaan ini semua. Itu semua hanya salah satu contoh nikmat untuk manusia yang telah Allah bicarakan dalam Al-Qur’an.

Atau seperti yang ada dalam lagu Tasya, yang isinya menceritakan bersyukurnya Tasya karena ketika ia bangun tidur, diberikannya mentari agar ia dapat melihat keindahannya yang ia hamparkan untuk umat manusia. Ketika malam diberikannya rembulan agar ia bisa tidur dengan nyaman. Sungguh, lagu itu sebenarnya bisa memerahkan muka kita di hadapan Allah, karena kita tak pernah tersadar akan pentingnya dua ciptaan Allah tersebut. Yang ada hanyalah kita hanya menikmati dan menikmati tanpa ada rasa bertanggung jawab untuk mensyukurinya.

Lalu nikmat yang khusus untuk kita. Coba lihat pemuda sekeliling kita. Apakah mereka sudah tersentuh hidayah seperti kita? Seberapa besar kita merasakan nikmatnya hidayah ini? Bahkan bersyukurlah untuk membuka situs ini, karena itu adalah sebuah nikmat dari Allah agar kita berada dalam lingkungan yang baik-baik.

Sekali lagi renungkan, apa-apa yang kita miliki dan tidak dimiliki oleh orang lain. Itu semua adalah nikmat dari Allah. Sehingganya kita tidak lagi merasa rendah diri dan merasa diperlakukan tidak adil oleh Allah, melihat orang lain memiliki keistimewaan-keistimewaan yang tidak kita miliki.

Rekan muda, bersyukurlah! Ketika sholat, agendakan bahwa sholat kita kali ini adalah dalam rangka mensyukuri nikmat-nikmat itu semua. Bawa dalam sujud kita ketika kita mengucapkan pujian untuk-Nya. Bawa dalam i’tidal kita. Dialogkan dalam do’a kita. Syukurilah, sekali pun hanya beberapa saat setelah membaca tulisan ini.

MA’RIFATULLAH

Posted: June 9, 2007 in Tarbiyah Muda

”Dan , ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka : “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul , kami menjadi saksi”.  agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami  adalah orang-orang yang lengah terhadap ini, atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang  sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu ?” (Al-A’raf 172-173)

 

Pentingnya Mengenal Allah

Tujuan Allah menghidupkan manusia di bumi adalah agar manusia beribadah kepada Allah swt. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”(Adz-dzariat : 56).

Seseorang yang mengenal Allah SWT, akan tahu akan tujuan hidupnya, tujuan mengapa ia dicipitakan dan untuk apa ia berada di atas dunia. Sebaliknya, seseorang yang tidak mengenal Allah tentu ia akan terpedaya dan terpukau oleh indahnya dunia, yang pada gilirannya ia habiskan umurnya untuk mencari dunia dan menikmatinya.

Allah memperkenalkan diri-Nya ketika Allah mengambil janji kepada manusia ketika sebelum manusia lahir.(Al-A’raf 172). Kemudian, eksistensi Allah telah tertanam dalam inner-conciousness (kesadaran diri) manusia. Sehingga secara naluriah, sebenarnya manusia mengenal adanya pemilik kekuatan yang agung di dunia ini. Hanya kemudian, pada pencarian akan ‘Pemilik Kekuatan Yang Agung’, sering terjadi salah sasaran. Yang disembah oleh manusia sering kali justru ciptaan Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri.

Naluri ini dimiliki oleh seluruh manusia. Ada pun orang yang tidak mengakui adanya Tuhan, maka dia telah menentang nalurinya sendiri. Menurut Yusuf Qaradawi dalam bukunya ‘Wujudullah’, Al-Qur’an tidak pernah membahas mengenai orang yang tidak mempercayai Tuhan. Yang Al-Qur’an bahas adalah mengenai orang-orang yang salah sasaran dalam menyembah Al-Qur’an.

Seorang yang mengenal Allah, tidak akan salah sasaran dalam beribadah.

Seorang muslim yang mengenal Allah, akan merasakan kehidupan yang lapang walau bagaimanapun keadaannya. Ketika dalam kesulitan, ia akan sabar. Dan dalam kelapangan, ia akan bersyukur. Ini karena ia mengenal Allah, bahwa Allah-lah yang telah mengatur kehidupannya. Dan Allah tidak pernah berbuat zholim kepada hamba-Nya.

“Amat mengherankan terhadap urusan mukmin, semuanya, hal itu tidak terdapat kecuali pada mukmin, bila ditimpa musibah ia sabar, dan bila diberi nikmat ia bersyukur.” (Hadits riwayat Muslim).

Orang yang tidak mengenal Allah, maka akan merasakan sempitnya kehidupan.

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaaha: 124).

Seseorang yang mengenal Allah akan selalu mengharap ridho-Nya dalam setiap perbuatannya, dalam perjalan hidupnya. Lain halnya dengan orang yang tidak mengenal Allah, ia berbuat berdasarkan kemuan syahwat dan kehendak nafsunya. Jadilah hawa nafsunya Tuhan selain Allah yang memerintah dan melarangnya.

 

Jalan Mengenal Allah

1. Mengenal Allah lewat Akal

Allah menciptakan akal untuk kita sebagai salah satu perangkat untuk mengolah alam semesta. Dan Allah menyempurnakan akal kita agar mampu memahami keberadaan-Nya. Mengenal Allah tidak hanya bisa didasarkan pada faith (kepercayaan). Karena dengan fikiran yang shidiq, maka Allah akan terwujud jelas keberadaan-Nya.

“Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya.  Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. “Ar-Ra’du : 3”

Hal ini berbeda sekali dengan kepercayaan lain, yang mau tidak mau pemeluknya harus bersandar pada faith untuk mengenali tuhannya. Contohnya, apapun logika yang dihidangkan untuk mengkonsumsi kepercayaan trinitas, akan menjadi mentah kembali dan tak berguna. Tak ada yang sanggup menghadirkan trinitas dalam logika seorang manusia.

Ada dua fenomena yang dapat diamati dan dipelajari dalam rangka mengenal Allah SWT dengan menggunakan potensi akal yang diberikan-Nya kepada kita. Yaitu:

a. Ayat Kauniyah

Yaitu ayat-ayat yang terdapat di alam semesta. Kita tidak akan sanggup memikirkan dzat Allah. Tapi yang harus kita pikirkan adalah ciptaan Allah SWT. Keseimbangan penciptaan seharusnya telah membunuh kecurigaan bahwa segala sesuatu terjadi dengan sendirinya di bumi ini. Konsep serba ‘kebetulan’ hanya menjadi takhayul kalau kita memindai alam ini, dan menyimpulkan secara jujur.

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?  (Al-Mulk:2)”

b. Ayat Qouliyah.

Yaitu ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an yang senantiasa kita baca sehari-hari.

Bila nabi dan rasul terdahulu memperkenalkan Allah kepada kaumnya dengan menggunakan mu’jizat, seperti itu juga Rasulullah Muhammad SAW. Begitu banyak mu’jizat terjadi di zaman Rasulullah. Hanya mu’jizat yang tetap bertahan setelah Rasulullah tiada, adalah Al-Qur’an. Inilah mu’jizat agung yang membuat orang yang memahaminya akan terpukau.

Begitu banyak orang yang takluk kesombongannya oleh Al-Qur’an. Mulai dari ilmuwan seperti Maurice Brucille, sampai seniman seperti Cat Steven. Mereka semua masuk Islam diperantarai Al-Qur’an.

2. Mengenal Allah lewat Asma’ul Husna.

Allah memperkenalkan diri-Nya melalui asma’ul husna, atau nama-nama baik yang dimiliki oleh Allah. Perkenalan ini adalah perkenalan tingkat lanjut. Karena hanya orang yang telah yakin akan adanya Allah, yang bisa mengenal Allah melalui asma’ul husna.

Nama-nama Allah tersebut terdapat 99 nama. Sifat-sifat Allah tertuang dalam nama-nama ini.

 

^*&^&*^%&^%&*&(*(**(*&*&^&^

 

Bahan Diskusi:

Seorang Atheis tidak mempercayai Tuhan karena mereka tidak melihatnya. Bagaimana pandangan kalian?

Apakah kita harus mempercayai hal yang dapat kita lihat saja? Lalu bagaimana dengan arus listrik, medan magnet, medan gravitasi, dll? Bagaimana dengan akal kita sendiri? Apakah kita mampu melihatnya?

Tuhan telah menitipkan kemampuan mengenal-Nya pada naluri/fitrah dan akal kita.Diperlukan kepekaan naluri yang bersih untuk mengenali keberadaan-Nya. Dan diperlukan akal yang jujur. Arus listrik, medan magnet, medan gravitasi, semua itu diketahui keberadaannya karena terasa efeknya. Begitu juga dengan Tuhan, kita mengenali-Nya dari karya-Nya yang agung.

Sedangkan melihat matahari saja kita tidak mampu, lalu bagaimana dengan melihat Tuhan?

Perumpamaan seseorang yang menolak kehadiran Tuhan berlandaskan logikanya, ialah seperti seorang yang melihat pensil yang dimasukkan ke dalam air, sehingga pensil itu tampak seperti bengkok/patah. Ketika dikatakan padanya bahwa pensil itu lurus, dan pandangan ini terjadi karena pembiasan cahaya di dalam air, orang tersebut tidak percaya dan tetap ‘kekeh’ dengan pendiriannya bahwa pensil itu bengkok.

Akalnya hanya sampai segitu. Belum mampu menangkap yang terjadi sesungguhnya. Dan ketahuilah, akal manusia memiliki keterbatasan.

Ajak peserta mentoring untuk melihat karya-karya Harun Yahya, atau situsnya. Pinjamkan mereka vcd-vcd Harun Yahya. Itulah makanya, seorang murobbi perlu modal juga. 😀

 

Maroji’:

  1. Wujudullah, Yusuf Qaradawi.
  2. Sumber lainnya.

Sengseng sawah, 1 Januari 2006.

Tertancap ke bumi

Posted: June 9, 2007 in Embun Taushiyah

Alkisah ada seseorang konglomerat terkaya di dunia ini yang baru saja membeli tanah yang amat luas. Ia bangga sekali dengan apa yang dimilikinya. Sehingga dia beranggapan bahwa daerah yang paling luas yang pernah dimiliki oleh seseorang adalah daerah kekuasaannya.

Untuk menikmati luasnya wilayah yang baru dimilikinya itu, ia memutuskan untuk berkeliling dengan menggunakan kendaraan. Ia memilih mobil mewah yang punya kecepatan yang tinggi. Ia ingin tahu, berapa banyak hari yang akan ia habiskan untuk mengelilingi wilayahnya itu.

Maka dimulailah perjalanan itu. Bersama beberapa supir pribadi dan rombongan, ia melintasi pegunungan, sungai-sungai, tepi laut, danau, dan daerah-daerah yang baru sekali itu ia lihat selama beberapa hari. Padahal ia telah dipacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, tapi tetapi tidak juga kunjung ia temukan titik akhir perjalanan.

Pada akhirnya ia putuskan untuk kembali ke rumahnya. Ia sangat puas. Sangat puas. Ia merasa telah memiliki wilayah yang begitu luasnya. Dan ia sangat terkagum-kagum dengan keluasan wilayahnya itu. Ia begitu mencintai tanah yang teramat sangat luas tersebut.

Suatu hari konglomerat ini tertantang untuk menembus angkasa raya dengan satelit. Memiliki uang yang banyak membuat ia mudah mengatur semuanya. Maka pada hari yang telah ditentukan, ia bersiap untuk menuju angkasa luas dengan sebuah satelit.

Perhitungan mundur dilakukan. Saat mencapai hitungan nol, satelit meluncur ke atas. Dari ketinggian, ia bisa melihat-lihat luasnya bumi dan luasnya wilayah yang ia miliki. Masih ia terkagum-kagum dengan luasnya wilayah yang ia miliki.

Tetapi semakin tinggi satelit naik, semakin terlihat kecil wilayahnya. Terus begitu, semakin tinggi satelit naik, semakin kecil bumi terlihat. Bahkan wilayahnya bisa ia jangkau dengan jengkalnya. Hingga akhirnya ia hanya melihat bumi sebesar kelereng.

Di ketinggian itulah ia menyadari bahwa wilayah yang ia punya tidaklah seberapa. Kecil dibandingkan alam raya ini.

Rekan muda, perhatikanlah bagaimana kisah itu menjadi metafora bagi kehidupan kita. Apabila boleh diumpamakan tingginya ruhiyah seseorang dengan tingginya posisi seseorang di angkasa, maka semakin tinggi ruhiyah seseorang maka akan kehidupan dunia ini akan semakin terlihat kecil baginya.

Allah menyebut dengan kata “tsaqoltum ilal ardh” (tertahan/tertancap ke bumi) bagi orang mukmin yang malas pergi ke medan jihad ketika ada seruan untuk berjihad. (At-Taubah 38). Dan pada ayat itu, kepada orang-orang yang tertahan di bumi, Allah bertanya, “Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal keni’matan hidup di dunia ini diakhirat hanyalah sedikit.”

Zainab r.ha.

Posted: June 1, 2007 in Siroh

Ummul Mu’minin Zainab r.ha. adalah seorang putri paman Rasulullah saw, alias sepupunya Rasulullah saw.  Pada mulanya, Zainab menikah dengan Zaid r.a., salah seorang hamba sahaya yang telah dimerdekakan oleh Rasulullah saw. Zaid sendiri, setelah dimerdekakan, tetap ingin bekerja kepada Rasulullah sehingga beliau begitu dekat dengan Rasulullah. Saking dekatnya, Zaid menjadi anak angkat Rasulullah dan sangat disayangi oleh Rasulullah saw. Karena itulah, Zaid memiliki julukan Zaid bin Muhammad saw.

Pernikahan Zainab dengan Zaid tidak dapat berlangsung lama, karena perbedaan kebiasaan dan latar belakang. Zaid berlatar belakang budak dan terbiasa dengan kehidupannya. Sedangkan Zainab adalah seorang bangsawan. Karena sulit untuk beradaptasi, keduanya pun sepakat bercerai. Namun perceraian inilah pembuka pintu hikmah, terjadinya sebuah revolusi adat oleh Islam.

Perceraian membuat Zainab halal untuk dinikahi, termasuk oleh Rasulullah saw. Namun pada waktu itu, adat menyamakan antara anak angkat dengan anak kandung. Konsekuensinya, seseorang tidak dapat menikahi mantan istri anaknya, termasuk anak angkatnya. Hal ini yang dibantah oleh Islam melalui kejadian yang dibuka oleh perceraian Zainab dan Zaid. Anak angkat berbeda dengan anak kandung.

Rasulullah mendobrak tradisi ini dengan melamar Zainab. Masyarakat pun geger dengan adanya pelanggaran tradisi ini. Namun the show must go on.

Terhadap lamaran Rasulullah, Zainab malah menjawab, “Aku akan bermusyawarah terlebih dahulu dengan Rabbku.” Kemudian Zainab mengambil air wudhu dan mengerjakan shalat.

Akhirnya Allah pun menjawab konsultasi Zainab dengan ayat, “Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia, supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk mengawini istri-istri anak-anak angkat mereka apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (Al-Ahzab: 37).

Begitu diberitahu tentang kabar gembira ini, Zainab mengeluarkan perhiasan yang dipakainya dan diberikan kepada orang yang menyampaikan kabar gembira tersebut.

Ada kebanggaan dalam diri Zainab. Semua istri Rasulullah dinikahkan oleh manusia, dalam hal ini adalah keluarga mereka sendiri, sedangkan Zainab dinikahkan oleh Allah swt.

Karena Aisyah r.ha. juga bangga karena merupakan salah seorang istri yang paling dicintai Rasulullah saw., maka di antara keduanya terjadi persaingan. Namun persaingan ini tidak sampai menjerumuskan mereka ke hal-hal yang dibenci Allah. Contohnya, ketika terjadi fitnah bagi Aisyah r.ha., Zainab hanya berkomentar, “setahu saya Aisyah adalah seorang yang baik, dan saya paham bahwa ia adalah seorang yang shalih.” Zainab tidak menjatuhkan martabat Aisyah, sekalipun ia berkesempatan seperti itu.

Zainab r.ha. adalah seorang wara’. Ia banyak berpuasa dan banyak mengerjakan shalat-shalat sunnah dan nafilah, dan biasa bekerja dengan tangannya sendiri. Dan setelah mendapatkan hasil dari pekerjaannya, maka hasilnya ia sedekahkan.

Pada saat Rasulullah hendak wafat, maka apra istri Rasulullah bertanya pada Rasulullah tentang siapa yang paling dahulu wafat setelah Rasulullah saw. Rasulullah hanya menjawab yang paling panjang tangannya. Maka mereka pun segera mengukur tangan mereka dengan kayu. Tapi kemudian diketahui bahwa maksudnya adalah yang paling banyak mengeluarkan harta untuk sedekah. Bukan maling lho, rekan muda. Dan ternyata, yang paling panjang tangannya adalah Zainab r.ha. karena ia sangat gemar berinfak.

Ada sebuah peristiwa ketika zaman kekhalifahan Umar r.a., Umar telah menetapkan gaji untuk para istri Rasulullah saw. Kemudian gaji tersebut dikirimkan kepada setiap istri Rasulullah saw. sebanyak 12.000 dirham setiap tahunnya. Demikian pula kepada Zainab r.ha, telah dikirim jumlah yang sama. Tetapi ia menyangka bahwa uang tersebut untuk semua istri Rasulullah saw. Ia berkata kepada utusan yang membawa uang tersebut, “Sebaiknya diberikan saja kepada istri-istri Rasulullah lainnya.” Utusan tersebut berkata, “Uang ini semuanya adalah bagian engkau, dan ini untuk satu tahun.”

Pada akhirnya uang tersebut Zainab perintahkan kepada seseorang untuk dibagi-bagikan kepada fakir miskin, janda-janda tua dan anak-anak yatim, termasuk kepada orang yang membagikan itu sehingga tidak bersisa lagi.

Zainab hanya mengangkat tangannya dan berdo’a, “Ya Allah, pada tahun depan jangan sampai harta seperti ini datang kepadaku yang kedatangannya akan menjadi fitnah bagiku.” Memang benar, pada tahun berikutnya Zainab meninggal dunia.

Agar Bisa Berbuat Dosa

Posted: June 1, 2007 in Embun Taushiyah

Pada suatu ada seorang pemuda yang menemui Ibrahim bin Adham r.a. dan berkata, “Ya Aba Ishak! Saya ini suka melakukan dosa. Tolong dong, ada tips nggak biar saya bisa nggak maksiat lagi.”

Mendengar hal ini, Ibrahim bin Adham r.a. pun berkata, “Jika bisa memenuhi lima syarat berikut ini, kamu bebas untuk melakukan perbuatan maksiat.”

“Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?” Lelaki itu tak sabar mendengar berita gembira itu.”

“Syarat pertama,” Ujar Aba Ishak, “jika kamu ingin bermaskiat pada Allah, jangan mengkonsumsi rezeki-Nya.”

Lelaki itu bingung dan berkata, “Lha, terus saya mau makan apa? Kan semua ini adalah rezeki dari Allah.”

“Kalau begitu, apa pantas kamu makan rezeki-Nya sedang kamu melanggar perintah-Nya?”

“Oke deh, syarat keduanya apa?”

“Kalau kamu mau bermaksiat, jangan tinggal di bumi-Nya.”

“Hah? Waduh. Terus aku mau tinggal di mana? Bumi dan seisinya ini kan milik Allah.”

“Ya Abdallah, mikir dong, apa kamu pantes makan rezki Allah dan nge-kos di bumi-Nya sedangkan kamu bermaksiat pada Allah.”

“Ya… iya deh. Terus syarat ketiganya apaan?”

“Kalau kamu mau bermaksiat kepada Allah, tapi juga ingin memakan rezki-Nya dan tinggal di tempat-Nya, bermaksiat-Nya di tempat yang nggak diliat-Nya aja.”

“Ya Ibrahim. Ini nasehat macam apa? Mana mungkin saya ngumpet di tempat yang tidak dilihat-Nya.”

“Nyerah deh. Syarat keempatnya apa?”

“Kalau malaikat maut datang menjemput kamu, bilangin ke dia, “nanti aja matinya. Saya masih mau tobat dan beramal saleh dulu.””

“Ya Ibrahim, mana mungkin malaikat mau nurut omongan saya.”

“Lha, kalo kamu sadar bahwa kematian nggak bisa ditunda, terus jalan apa yang bisa membuat kamu keluar dari murka Allah?”

“Ya sudah, sekarang syarat kelimanya.”
”Nanti di akherat, kalau malaikat Zabaniyah datang untuk membawa kamu ke neraka, jangan ikut sama dia.”

“Ya Aba Ishak. Mana mungkin malaikat Zabaniyah menerima keberatan saya.”

“Kalau begitu, gimana lagi supaya kamu bisa selamat dari murka Allah?”

Lelaki itu kemudian menangis. “Ya Ibrahim, cukup … jangan kau teruskan lagi. Saya akan bertaubat nasuha kepada Allah.”

Lelaki itu menepati janji. Semenjak itu ia bertaubat dan menjalankan perintah Allah.

Penyesalan

Posted: June 1, 2007 in Embun Taushiyah

Suatu hari tersebutlah seorang raja yang memiliki beberapa putra yang cerdas-cerdas. Putra-putranya itu kini sedang didik oleh para pendidik istana beserta putra-putra petinggi istana lainnya.

Suatu hari ada seorang rakyatnya yang memberinya upeti berupa sebuah peti berukuran sedang yang berisi emas. Emas itu bukan berupa cincin, gelang atau kalung, bukan juga berupa batangan, tapi berupa bubuk emas. Dan sang raja ingin memberi bubuk-bubuk emas ini kepada putranya dan sekaligus ingin mengujinya. Bagaimana caranya?

Setelah berunding dengan penasehat kerajaan, maka didapatlah suatu pembagian yang unik. Maka dipanggillah putra-putranya itu pada hari pembagian. Sebelumnya putra-putranya itu belum tahu kalau mereka akan diberi bubuk emas itu oleh ayahnya.

Semua putra raja telah berkumpul di aula istana. Kemudian sang penasehat mengumumkan kepada mereka bahwa terdapat sebuah kantung yang mereka semua diharuskan mengambil isi di dalamnya. Seberapa besar yang diambil tidak ditentukan. Terserah masing-masing mereka, ingin mengambil sedikit, banyak, sedang, pokoknya sekehendak mereka saja. Boleh juga tidak mengambil. Satu catatan, berapa pun banyak mereka mengambil isi dalam kantung tersebut, mereka akan menyesal.

Menyesal? Para putra raja sedikit bingung mendengarnya. Namun pada akhirnya diambil juga isi dalam kantung tersebut. Mata mereka ditutup (agar tidak melihat isi dalam kantung tersebut) dan masing-masing putra mahkota secara bergantian mengulurkan tangannya ke dalam kantung besar tersebut. Ada yang mengambil banyak, ada juga yang mengambil sedikit. Ada yang tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit.

Yang mengambil banyak menimbang bahwa toh walau pun sedikit dia akan menyesal juga. Lebih baik mengambil banyak sekalian.

Yang mengambil sedikit berpikiran agar menyesalnya tidak terlalu besar.

Begitulah hingga akhirnya mereka semua telah menggenggam bubuk emas. Setelah tutup mata dibuka, terkejutlah mereka bahwa mereka menggenggam bubuk emas.

Penyesalan itu pun terjadi. Yang mengambil sedikit menyesal bahwa dia tidak begitu banyak mengambilnya. Yang sedang-sedang saja juga seperti itu. Menyesal tidak mengambilnya banyak-banyak sekalian. Dan yang mengambil banyak juga tidak kalah menyesal. Dia merasa kurang mengambilnya. Menyesal hanya sebanyak itu dan merasa kurang.

Rekan muda, seperti itulah perumpamaan kita kelak di akhirat nanti. Kita semua pasti menyesal di akhirat.

Yang amal solehnya kurang jelas menyesal hingga ia masuk ke neraka. Ia berfikir andai saja ia bisa dibalikkan kembali ke dunia dan beramal lebih banyak lagi.

Yang amal solehnya pas-pasan, juga menyesal karena seharusnya ia bisa mendapatkan surga lebih atas kalau saja ia pergunakan waktunya dengan baik di dunia ini.

Yang amal solehnya banyak, juga menyesal. Ia berfikir andai kata di dunia ini ia beramal lebih banyak dari yang ia amalkan.

Begitulah penyesalan yang akan kita temui di akhirat nanti. Rekan muda, sudah siapkah untuk menyesal? Setidaknya penyesalan kita tidak terlalu parah di akhirat. Maka persiapkanlah diri kita masing-masing dengan banyak beramal soleh selagi di dunia ini.