KONDISI AMBIGUITAS KADER DAKWAH

Posted: February 14, 2011 in Dakwah

Seorang aktifis dakwah kampus pernah mengeluhkan tentang kondisi kader dakwah yang – tanpa sengaja – mendikotomikan antara aktifitas dakwah dan ibadah dalam perilakunya. Ada aktifis dakwah yang yang begitu aktif – penutur tersebut mengistilahkan dengan aktifis dakwah yang ‘haroki’, namun lemah dalam hal ruhiyahnya. Dan ada pula aktifis dakwah yang rajin ibadahnya, atau kuat ruhiyahnya, namun aktifitas dakwahnya tidak menonjol.

Mungkin sudah menjadi gejala di kampusnya, karena ketika fit and proper test untuk pemilihan Badan Pengurus Harian di lembaga dakwah kampus itu, salah seorang calon ditanyakan tentang tindakannya apabila menemui dua karakter jundi yang berbeda: salah seorangnya haroki namun kurang ma’nawi, dan seorang yang lain berkebalikannya.

Apakah gejala di kampus itu juga menjadi gejala nasional? Bisa saja banyak aktifis dakwah yang seperti ini. Karena saya sudah lama mendengar masalah ini diperbincangkan oleh aktifis dakwah. Tapi saya yakin, ada banyak lagi kader dakwah yang mampu tawazun, yang mampu menyeimbangkan dedikasinya pada umat dalam kegiatan-kegiatannya yang berlapis-lapis, dan ‘ubudiyahnya dalam bentuk ibadah mahdoh. Banyak kader yang mampu menjadi – seperti adagium dalam dakwah – fursanun fi nahar, wa ruhbanun fillail.

Aktifis dakwah ada yang mengambing-hitamkan kegiatan dakwahnya. Ketika sibuk dalam kegiatan yang padat, maka seorang aktifis menjadi cemburu dengan kegiatan itu. Ia merasa kegiatan-kegiatan itu mengurangi waktunya untuk berubudiyah kepada Allah. Penyebab kelelahan hingga ia tak mampu memenuhi target amalan yauminya.

Meski salah dalam beralasan, penyesalan atas kesempatan ‘ubudiyah yang hilang masih jauh lebih baik dibanding tidak memiliki penyesalan sama sekali. Berbahaya apabila kelelahan karena aktifitas yang padat itu menjadi justifikasi atas kosongnya tilawah dalam sehari, atau penuhnya malam dengan mimpi. Aktifis dakwah menganggap sebagai suatu hal yang biasa, tertinggalnya beberapa amalan yang memperkuat ruhiyahnya, karena aktifitas yang padat merupakan kompensasi dari amalan-amalan itu.

Hal ini tentu tidaklah bijak. Karena kalau kita mengetahui, aktifitas para sahabat begitu luarbiasa sibuknya, namun mereka tidak pernah tinggal untuk menikmati malam dengan munajat kepada-Nya. Perbandingan yang terdekat adalah dengan para mujahidin di negeri-negeri yang berkecambuk. Sebuah film dokumentasi perang jihad Afghanistan dan Chechnya memperlihatkan para mujahidin menyempatkan diri membaca Al-Qur’an. Padahal ketika itu keadaan sedang tidak aman. Terpancar dari raut wajah mereka kegembiraan ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Kita belumlah memanggul senjata beserta ratusan pelurunya yang berat. Kita tidaklah berjalan begitu jauh, mendaki gunung menerobos belukar, bertahan dalam cuaca yang tidak bersahabat. Sebuah kegiatan yang melelahkan. Jauh perbandingan kelelahan antara kita dengan para mujahidin itu.

Kebaikan aktifis ‘haroki’ dan ‘ma’nawi’

Seorang aktifis dakwah yang ‘haroki’, biasanya ia juga seorang yang memiliki pemahaman yang bagus. Saya berpendapat keharokian itu linier dengan keilmuan yang luas. Dan begitulah yang saya temui di lapangan. Mungkin karena mereka adalah orang yang terbiasa dengan syuro, di mana pada syuro terjadi banyak pemaparan argumen.

Tentu baik apabila seorang aktifis dakwah memiliki wawasan yang luas. Dengannya, roda dakwah dapat berputar pada arah yang benar. Sekaligus juga, keaktifannya itulah yang menjalankan roda dakwah tersebut.

Bagi pribadinya, pemahaman yang baik dapat mencegahnya dari gugur di jalan dakwah. Bukankah dalam sebuah riwayat, setan lebih takut dengan seseorang yang memiliki pemahaman yang tinggi yang sedang tidur di dalam masjid, daripada seseorang yang sedang sholat dalam masjid tersebut. Hal ini karena seseorang yang memiliki pemahaman yang baik, sulit bagi setan untuk menipunya.

Dan seseorang aktifis dakwah yang ibadah mahdhohnya terjaga dengan baik, akan memiliki ma’nawi yang terpancar kuat. Kedekatan kepada Ilahi akan membuat dirinya berwibawa di tengah-tengah orang banyak. Dan apabila ia berdakwah, maka dakwahnya akan lebih mudah menembus hati objek dakwah. Apabila roda dakwah dijalankan oleh orang-orang yang seperti ini, tentu roda dakwah itu akan sangat efektif. Tarbawi dalam sebuah edisi pernah menulis: Ruhiyah kelam dakwah tenggelam, ruhiyah bersinar dakwah pun lancar.

Quwatu shillah billah (kekuatan hubungan dengan Allah) adalah hal yang efektif mencegah dirinya gugur dari jalan dakwah. Ketika permasalah rumit menekannya untuk keluar dari jalan dakwah, ia memiliki tempat bersandar yang begitu empuk: Allah swt. Dzat inilah yang memeliharanya untuk tetap di jalan dakwah, dan senantiasa memberinya taufiq serta furqon agar dapat melihat keadaan lebih jelas.

Lemahnya salah satu kondisi berakibat pribadi yang timpang

Tentu penting untuk memiliki kedua karakter ini pada diri kita. Lemahnya salah satu karakter akan membuat pribadi kita adalah pribadi da’i yang timpang.

Orang yang aktif namun tidak memiliki ruhiyah yang baik, maka berpotensi untuk menjadi orang yang jenuh dengan kepadatan aktifitas tersebut. Tidak tahan mental ketika tertimpa masalah. Lemah dalam ikhlas. Pemahamannya tidak mampu menopangnya untuk tetap berada di jalan dakwah. Sekalipun ia paham bahwa sesuatu itu salah, namun karena kurangnya kedekatan dengan Tuhannya, ia akan tetap melaksanakan sesuatu itu.

Orang yang kuat ruhiyahnya namun malas untuk aktif dalam kepadatan kegiatan dakwah, maka jadilah ia seorang yang sholih tetapi tidak muslih. Ia berpotensi menjadi seseorang yang mudah kecewa pada jama’ah, karena kurangnya pemahaman yang ia miliki.

Ruhiyah adalah inspirasi kita bergerak. Roda dakwah yang berjalan dengan terarah dan lincah, apabila yang menjalankannya kehabisan tenaga, maka roda itu tidak akan bisa berjalan lagi. Sesungguhnya sumber tenaga itu adalah kualitas ruhiyah yang baik.

Jadilah orang yang lengkap. Sebagai penutup, saya ilustrasikan seorang aktifis dakwah yang ideal adalah seperti gambaran mujahidin perang Padri yang dipimpin oleh Imam Bonjol: Al-Qur’an di tangan kirinya dan pedang di tangan kanannya.

Comments
  1. sip. aktivis dakwah memang harus memiliki daya tahan yang kuat. harus siap dengna medan dakwah yang ada.

  2. mo5lemranger says:

    setujuu,,
    maka nastagfirullah banyak hal yang terluapakan untuk diseimbangkan..
    sehhingga kita cantik diluar namun keropos didalam dan mudah patah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s