Ringan Tapi Keterlaluan

Posted: April 25, 2013 in Embun Taushiyah

Salah satu yang paling sering dianggap ringan, disepelekan, atau tidak perlu dibawa serius adalah guyonan. “Namanya juga becanda. Why so serious?” begitu pesan orang-orang  kalau sedang becanda.

Iya memang, yang namanya becanda tentu bukan hal serius yang harus dimasukkan hati. Tapi tak semua hal bisa dijadikan bahan becandaan. Karena tidak semua manusia bisa menerima suatu becandaan. Ada manusia yang cool banget, cuek bebek dengan becandaan yang menyinggung dirinya. Tapi ada juga manusia yang sensitif banget yang gampang tersinggung walaupun becandaannya sekedarnya saja. Becanda juga punya batas-batasnya.

Selain mempertimbangkan perasaan orang, becandaan juga harus mempertimbangkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Apa pantas sebuah musibah dijadikan becandaan? Apa pantas isi becandaan itu mengejek suku dan ras? Apa pantas becandaan mengejek orang tua? Dan juga, Islam punya rambu-rambu dalam becanda, salah satunya tidak boleh menjadikan syiar Islam sebagai bahan becandaan. Ringkasnya, agama jangan dijadiin becandaan.

Larangan itu ada pada surat At-Taubah 64-65. Surat itu bercerita tentang orang-orang munafik yang membawa-bawa syiar Islam dalam gurauan. Bahkan mereka berniat mengejek umat Islam dengan candaan itu. Lalu Allah tegur orang-orang munafik itu dengan keras. Ayatnya berbunyi seperti berikut:

“Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolokolok?”” (QS 9:64-65)

Begitulah, salah satu watak orang munafik adalah becanda mempermainkan syiar-syiar Islam. Mudah-mudahan kita tidak seperti itu.

Dan yang banyak terjadi belakangan adalah becandaan dengan mempermainkan kalimat-kalimat thoyibah. Ada banyak kata-kata baik yang dijadikan dzikir mengingat Allah, seperti astaghfirullah, masya Allah, bahkan menyebut “Ya Allah” pun termasuk dzikir. Namun itu semua dipermainkan dengan sebutan “ya owoh”, “ya olo”, “astapiluloh”, “masya tuhan”, dll. Na’udzubillahi min dzalik.

Terkesan remeh, tapi sudah memenuhi salah satu kriteria dari orang munafik. Bagi muslim yang mendengar kata-kata ini, apakah tidak terbakar emosi karena nama Tuhannya dipermainkan? Sedangkan bila nama kita sendiri atau nama orang tua kita sendiri jadi bahan olok-olokan saja kita tersinggung. Apalagi dengan muslim yang bercanda dengan candaan seperti ini. Mengapa begitu enteng dia menggunakan nama Tuhan sebagai olok-olok padahal dia percaya bahwa Allah lah yang menciptakan dan memberinya nikmat?

Sebenarnya tiap kita diberi kepekaan naluri. Dengan kepekaan naluri itu kita bisa menakar yang baik dan buruk. Termasuk dalam becandaan, dengan hati kita bisa memperkirakan mana yang boleh dijadikan bahan canda dan mana yang keterlaluan. Hal ini tidak berlaku bagi orang munafik yang hatinya telah ditutup mati oleh Alla swt. Wajar saja, becandaannya tidak terkontrol. Nama Allah pun dan kata-kata yang baik sebagai dzikir pun dijadikan mainan. Na’udzubillah, semoga kita tidak seperti itu.

Di zaman Rasulullah, ada kisah orang Yahudi yang mengolok-olok syiar Islam. Kisah itu tercantum dalam Al-Qur’an di surat Al-Baqarah ayat 104. Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.” (QS 2:104)

Ceritanya, orang-orang beriman biasa memanggil Rasulullah dengan “Raa’ina” yang artinya “perhatikanlah kami.” Panggilan ini terdengar oleh orang-orang Yahudi yang kemudian mempelintir kata itu dengan sebutan “Ru’uunah.” Arti dari ru’uunah sendiri adalah kebodohan yang sangat. Hal itu ditujukan sebagai ejekan kepada Rasulullah saw. Akhirnya Allah swt menurunkan ayat ini dan menyuruh orang beriman mengganti panggilan kepada Rasulullah dengan “Unzhurnaa” yang artinya sama, “perhatikanlah kami.”

Nah rekan muda, itulah ciri permusuhan kepada Islam, yaitu dengan memelintir kalimat-kalimat syiar Islam. Kalau menemukan orang yang mempermainkan syiar Islam, sebaiknya tegur saja. Peringatkan padanya bahwa hal itu sangat tidak pantas dijadikan becandaan. Tegas yuk!

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s