Setan, Si Raja PHP

Posted: December 29, 2012 in Embun Taushiyah

Tau istilah PHP kan? Ada istilah dalam dunia pemrograman komputer, yaitu “PHP: Hypertext Prepocessor.” Tapi bukan PHP ini yang sedang dibahas. Istilah ini lagi ngetrend di kalangan anak muda. Kalau bertemu sesuatu yang mengecewakan, akan keluar tudingan PHP ini. Yaitu: Pemberi Harapan Palsu.

Misalnya ada seorang remaja yang ngebet dengan lawan jenisnya. Berbagai cara dilakukan dan tampaknya ada respon dari incarannya. Namun saat dikatakan terus terang perasaan remaja itu, yang didapat hanyalah penolakan. Maka kekecewaan pun datang dan tudingan PHP pun bersarang.

Sering bukan salah orang yang dituduh PHP, tapi dasar yang menuduhnya saja ke-ge-er-an duluan. Salah tangkap dan terlanjur berharap terlalu banyak.

Tapi ngomong-ngomong, sadarkah rekan muda, siapa makhluk yang paling sering menebar harapan palsu? Rajanya PHP dan memang profesinya menebar harapan palsu. Pembuat iklan? Bukan itu. Makhluk itu adalah yang dikatakan oleh Allah swt sebagai musuh.

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), Karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu Hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir : 6)

Semenjak tragedi pengusiran setan dari surga, sebagaimana kisah yang telah kita sering dengar, setan pun bersumpah untuk membuat manusia tersesat.

“Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tida k akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf: 16-17)

Bagaimana caranya? Tentu saja dengan tipuan dan harapan palsu. Dan tipuan harapan palsu itu telah sukses pertama kali saat Nabi Adam a.s. melanggar larangan Allah swt memakan buah dari pohon yang dilarang untuk didekati.

Nah, agar tidak terkena tipuan harapan palsu-nya setan, kita harus tahu bagaimana setan beroperasi menebar harapan palus nya.

Perhatikan surat Al-A’raf ayat 17 di atas. Dari ayat tersebut, dalam tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan ada 4 cara setan menebar harapan palsu.

1. Min baini aidihim. Setan datang langsung di hadapan kita. Maksudnya setan membuat manusia ragu akan permasalahan akhirat. Karena sesungguhnya yang ada di depan kita adalah hari akhir.

Setan menabur harapan palsu pada manusia dengan kata-kata, “Nyantai aja men, neraka dan adzab kubur itu hoax. Lu boleh berbuat sesuka lu di dunia ini. Hidup itu cuma sekali, men. Jangan sampe sia-sia lu capek-capek sholat, puasa, buat ngejer akherat, padahal yang dikejer itu gak ada sama sekali.” Begitulah godaannya sehingga manusia menyangka dan berharap bisa melakukan apa saja tanpa ada balasannya di akhirat. Namun manusia salah.

2. Wa min kholfihim. Dari belakang. Lawan dari akhirat (depan) tentu saja dunia. Maka setan membuat manusia mencintai dunia. Cinta pada dunia inilah yang membuat mental umat muslim menjadi terpuruk.
Setan memberikan harapan palsu pada manusia: “Bro, lu ga perlu lah sedekah sedekah segala. Mending uangnya lu invest di deposito. Lebih bermanfaat buat lu bro. Orang-orang itu miskin karena males. Lu gak seperti mereka. Lu orangnya rajin dan smart mengelola uang. Udah, ga usah sedekah. Kalo ga buat beli gadget baru, mending dikelola maen saham.”

Akhirnya manusia tenggelam dalam cinta dunia dan enggan beramal sholih.

3. Wa ‘an aimaanihim. Dari kanan. Maksudnya setan akan membisiki manusia dengan cara mengaburkan urusan agamanya. Di sinilah peran kelompok penyesat seperti misionaris, aliran-aliran sesat dan JIL.
Setan memberi harapan palsu pada manusia berupa: “Girl, lu yakin berjilbab? Sayang rambut bagus lu, lho. Yang diperluin itu jilbab hati. Hati lu udah dijilbabin belum? Yang penting itu tingkah laku lu dijilbabin dari kelakuan-kelakuan jelek. Ga perlu lah kain yang menutupi rambut indah lu. Bukan itu tujuan beragama.”

Godaan lain misalnya: “Cuy, lu ga perlu sholat kalu kelakuan lu udah baek. Kalo lu udah menghindari perbuatan keji dan munkar, itu udah cukup. Sholat kan tujuannya itu. Udah lah cuy, lu udah baek kok. Ga perlu sholat. Beneran.”

Dan manusia pun tersesat fikirannya karena godaan setan. Itulah perlunya ilmu agama agar bisa menangkal tipuan-tipuan seperti ini.

4. Wa ‘an syama’ilihim. Dari kiri. Setan membuat manusia gandrung pada kemaksiatan. Dari sisi ini benar-benar full harapan palsu. Manusia pada dasarnya memang menyukai hal yang menyenangkan. Dan setan membungkus maksiat itu sehingga terlihat menyenangkan.

Setan menggoda manusia: “Gak apa lah bray maen judi. Toh cuma sedikit ini. Bisa tobat lah entaran. Yang penting sekarang mah gaul ama temen-temen. Kalo menang lu mayan buat foya-foya. Udah nyantai aja ga usah pikirin dosa. Tuhan juga ngerti.”

Itulah berbagai tipuan indah setan. Berbagai jalan ia masuki untuk meniupkan harapan indah pada manusia.

Advertisements

Tak Usah Bilang WOW

Posted: November 14, 2012 in Embun Taushiyah

“Terus gw harus bilang wow gitu?” Ini dia kata-kata yang sedang happening banget. Dipopulerkan oleh sebuah sinetron remaja, hingga sekarang bukan cuma remaja saja yang latah nyeletuk pakai kata-kata itu. Anak-anak sampai ibu-ibu pun ikut-ikutan.

Terus, apa kita harus salto sambil bilang wow karena fenomena ini? Ya tidak harus, tapi kalau mau salto dari puncak gedung wisma 46, silakan kalau berani.

Kata “wow” biasanya diucapkan bila melihat sesuatu yang menakjubkan. Tapi, apakah kita harus selalu bilang wow bila menemukan sesuatu yang menakjubkan? Tidak usah. Karena sebenarnya ada kalimah thoyibah, atau kata-kata baik yang berpahala bila kita ucapkan saat melihat sesuatu yang menakjubkan.

Ucapkanlah “Masya Allah” bila bertemu dengan hal yang menakjubkan itu. Ini sesuai dengan yang dituntun oleh Al-Qur’an serta kebiasaan dalam bahasa Arab.

Tuntunan dalam Al-Qur’an bisa kita temui dalam surat Al-Kahfi ayat 37: “Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan” (QS 18:39)

Dalam lisan bahasa Arab pun terbiasa mengucapkan Masya Allah pada hal-hal yang mengagumkan dan menakjubkan. Mereka tidak berkata wow sambil salto tujuh kali ke belakang melewati pohon kurma. Tapi walaupun ini kebiasaan orang Arab, kebiasaan ini bernilai pahala karena ada dzikir dalam ucapannya. Beda dengan kata “wow” yang tidak ada makna dzikir. Dan jangan berpikiran berlebihan bahwa mengganti kata wow dengan Masya Allah adalah arabisasi. Ini ibadah kok.

Bagaimana dengan kata Subhanallah? Ini adalah termasuk kalimah thoyyibah. Hanya saja, sering terjadi kesalahan kondisi pengucapan pada masyarakat kita. Subhanallah sering diucapkan oleh masyarakat kita bila menemui hal yang menakjubkan. Padahal dalam Al-Qur’an, kata subhanallah sendiri dipakai untuk mensucikan Allah dari hal-hal yang tidak pantas.

“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau (Subhanaka). Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”.(QS 34: 40-41)

“Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah (subhanallah), dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”(QS 12: 108)

Kita perlu menyesuaikan pengucapan kalimah thoyibah dengan tuntutan Al-Qur’an. Bila bertemu hal yang menakjubkan, ucapkan masya Allah. Bila bertemu hal yang tak pantas, misalnya ada teman yang curhat: “Kenapa ya Tuhan gak mau mengizinkan gw lepas dari status jomblo,” ucapkan “Subhanallah. Maha Suci Allah dari tuduhan kamu…” Seperti itu lah.

Juga ada kalimah thoyyibah: Allahu Akbar. Ini pun bila bertemu dengan sesuatu yang menakjubkan. Kita sudah paham artinya: Allah Maha Besar. Ucapan Allahu akbar saat melihat yang mengagumkan menandakan kita kagum pada Pencipta Hal Yang Menakjubkan Itu.

Kata Allahu akbar dan subhanallah juga diucapkan dalam perjalan. Bila kita berjalan dan menemukan jalanan mendaki, ucapkan Allahu akbar. Bila bertemu jalan menurun, ucapkan subhanallah.

“Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Apabila kami berjalan mendaki (naik), kami bertakbir dan apabila menuruni jalan kami bertasbih” (HR. Bukhari)

Ada banyak kalimah thoyibah lain. Misalnya ucapan istirja’ bila menemukan musibah. Yaitu kalimat: Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Inilah tuntunan Al-Qur’an untuk kita.

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”” (QS 2:155-156)

Misalnya ada teman yang ngadu pada kita, “Bro, kacau bro, ban motor gw kempes diantup tawon,” jangan ucapkan: “Terus gw harus ngunyah sarang tawon sambil bilang wow gitu?” Ada ucapan yang lebih baik yaitu Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Jangan salah kaprah menyangka ucapan ini hanya bila mendengar kabar kematian.

Bagaimana bila mendapati sesuatu yang menyenangkan. Juga tidak perlu bilang wow. Apalagi sambil ngemut tugu monas. Ucapkan “Alhamdulillah”. Inilah tuntunan dalam Islam.  Ucapan ini tanda syukur kita kepada Allah. Syukur secara lisan. Masih menanti syukur dalam bentuk perbuatan.

Bila memulai sesuatu, Islam menuntun kita untuk membaca basmallah. “Bismillahirrohmanirrohiim”. Bukan kata wow. Masa’ hendak makan kita bilang wow dulu?

Dan bila melakukan perbuatan kesalahan, beristighfarlah!! Ucapkan “Astaghfirullahal ‘azhiem.” Aduh, jangan sampe setelah kita berbuat dosa dengan melawan orang tua, kita malah ambil speaker keliling kampung untuk bilang wow. Na’udzubillahi min dzalik. (Semoga kita dilindungi Allah dari perbuatan demikian. Ini juga kalimah thoyyibah agar terlindung dari hal-hal buruk. Jangan bilang wow bila bertemu hal buruk.). Manusia memang tak lepas dari dosa, tapi ada kalimah thoyyibah istighfar yang membersihkan dari dosa. Bilang wow malah kesannya bangga sehingga dosa malah makin besar.

Itulah kalimah thoyyibah yang seharusnya kita ucapkan sebagai muslim. Pada berbagai kondisi, ada pahala yang menanti kita bila mengucapkan kalimah thoyyibah. Itulah indahnya Islam, ada banyak jalan untuk mencapai kebaikan. Wow.. eh… Allahu akbar..!!

Sarkas Itu Gak Keren, Sob!

Posted: April 12, 2012 in Embun Taushiyah

“Siapa berkata kasar banyak orang jadi gusar, siapa berkata lembut banyak orang jadi pengikut.” Itu bunyi gurindam dua belas Raja Ali Haji yang dipopulerkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring.

Sewajarnya memang begitu, siapa yang rese’, bakal dijauhin temen. Tetapi rupanya tidak selalu begitu. Ada sebagian orang yang demen dengan kata-kata kasar. Memaki dan sarkasme mereka anggap suatu yang keren. Di negara lain, “Di barat sono” kata engkong, lirik-lirik lagu rap/hip hop yang berisi makian sudah dianggap biasa. Dan di Indonesia pun sempat terdengar lagu-lagu yang liriknya berisi makian. Kenyataannya ada juga yang senang dengan lagu-lagu model begitu.

Tapi ngomong-ngomong, berkenalan dulu deh dengan kata sarkasme. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata sarkasme dengan kata-kata berikut: “sar·kas·me n (penggunaan) kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar.” Sedangkan dalam artikelnya, wikipedia mendeskripsikan sarkasme seperti berikut: “Sarkasme adalah suatu majas yang dimaksudkan untuk menyindir, atau menyinggung seseorang atau sesuatu. Sarkasme dapat berupa penghinaan yang mengekspresikan rasa kesal dan marah dengan menggunakan kata-kata kasar. Majas ini dapat melukai perasaan seseorang. Contoh: Soal semudah ini saja tidak bisa dikerjakan. Goblok kau!”

Di mana ditemukan kata-kata sarkasme?

Tentu saja dalam pergaulan sehari-hari, kata sarkasme itu ada. Entah itu dimaksudkan becanda atau serius. Sarkasme yang paling serius misalnya menyumpahi orang lain dengan nama-nama binatang atau pun makhluk halus. Nama-nama binatang di sini bukan “Burung Merak”, “Ikan Mas Koki”, atau “Iguana”. Binatang yang indah-indah tentu tidak disebut. Yah… tahu lah sobat muda binatang apa sih yang dipakai buat mengumpat.

Di dunia maya juga ada. Semenjak dunia internet booming, semenjak itu pula kata-kata sarkasme berseliweran di dunia internet. Ada di percakapan chatting, di email mailing list (milis), forum diskusi, di jejaring sosial, bahkan di blog. Padahal sudah ada istilah “netiket”, atau etika dalam berinternet, sebagai aturan norma dalam menggunakan internet. Tetapi yang namanya manusia yang doyan melanggar, etika saja tidak cukup buat mengatur perangainya.

Hingga akhirnya lahirlah UU ITE. Dalam BAB VII, Perbuatan Yang Dilarang, pasal 27 ayat 3 berbunyi: “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.” Apa sanksi dari pelanggaran pasal itu? Bab XI, Ketentuan Pidana pasal 45 ayat 1 berbunyi: “Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”

Satu milyar itu lumayan sob… Nolnya ada sembilan. Sayang sayang lho uang segitu dipake buat membiayai aktifitas sarkas kita. Undang-undang itu diperlukan sebagai jaminan kepastian hukum buat kita dalam berselancar di dunia maya. Supaya kita tidak difitnah sembarangan lewat internet, atau dihina.

Ada juga istilah “bully” yang istilah itu lagi ngetrend sekarang ini. Harus lihat kamus lagi kah? Oke oke… Menurut Oxford Dictionaries, Bully itu: “use superior strength or influence to intimidate (someone), typically to force them to do something”. Inti katanya ada di : ‘intimidasi’. Di dunia maya, bully ini adalah aktivitas mengintimidasi orang lain dengan kata-kata. Dan kata-kata yang digunakan tidak jauh dari sindiran – itu yang paling halus – serta ejekan, cacian, dan sarkasme.

Di mana lagi ada sarkasme?

Sobat muda hobi nonton sepakbola? Punya klub idola? Kalau punya, tentu tiap klub sepakbola ada musuh bebuyutannya. Harusnya sepakbola cuma hiburan kan sob. Kita menggemari sepakbola biar kita terhibur. Tapi kenyataan di lapangan (ciee make istilah lapangan. Padahal penggemar mah bukan yang maen di lapangan), saling ejek antar suporter sepakbola itu ramenya minta ampun. Kata-kata sarkasme berseliweran. Tawuran? Bukan hal luar biasa juga. Bahkan tawuran terjadi didahului oleh saling ejek antara suporter. Akhirnya karena sarkasme ini kita tidak lagi bisa menikmati hiburan tanpa kekerasan, minimal kekerasan verbal.

Sarkasme ini juga sering terdengar saat seorang lagi ngompol, alias ngomong politik. Ketika mengkritik kebijakan pemerintah dan penyelenggara negara, keluarlah sarkasme yang memaki-maki mereka. Saat membicarakan suatu parpol atau seorang tokoh politik, juga sering bertaburan kata-kata sarkas. Ya mudah-mudahan sobat muda yang baca tulisan ini bukan yang termasuk orang yang doyan sarkas, baik saat ngomongin bola, politik, atau yang lain.

Be a muslim, say no to sarcasm

Ciri khas seorang muslim adalah bertutur dengan kata-kata yang baik. Bila tidak sedang bertutur dengan kata-kata baik, ia diam. Begitu yang digambarkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka hendaklah ia berkata baik atau diam”. (Bukhari dan Muslim). Dengan karakter seperti ini, tentu tidak ada tempat buat kata-kata sarkas atau pun membully orang.

Allah pun telah memperingatkan hamba-Nya untuk tidak mengolok-olok seorang muslim baik dengan kata sarkas atau pun sindiran. “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum memperolok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka yang mengolok-olok, dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, karena boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olok itu) lebih baik dari wanita yang mengolok-olok, dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah panggilan buruk sesudah iman dan barang siapa tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.(QS 49 :11).

Nah, itu lah karakter seorang yang beriman.

Sarkasme itu justru ada pada karakter orang yang tidak beriman. Ingat apa ucapan orang kafir quraisy saat mengejek Rasulullah? (Tidak ingat karena belum lahir? Ye.. memangnya ga baca siroh nabi?). Kafir quraisy mencela Rasulullah dengan tuduhan majnun, yang artinya gila. Na’udzubillahi min dzalik. Tapi kemudian Allah membela Rasul-Nya. Dalam surat Al-Qolam ayat 2-4 Allah berfirman: “Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Allah mengganti kata-kata sarkas kaum kafir Quraisy dengan pujian.

Masih dalam surat Al-Qolam, kemudian Allah memerintahkan agar tidak mengikuti orang yang suka mencela alias tukang sarkas. “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak.” (QS Al-Qolam 10-14).

Gara-gara orang itu punya banyak harta dan anak, akhirnya banyak yang menjadi pengikutnya walaupun orang itu tukang berkata kasar. Itu dilarang. Begitu juga jangan karena orang itu pintar bermain musik, lagunya asyik-asyik, tapi kita gandrung dengan orang itu walaupun dia tukang sarkas. Atau pelawak yang tidak bisa melawak kecuali dengan menghina orang. Gak banget deh ngikutin orang itu.

Surat Al-Qolam tadi juga menjadi renungan bagi kita bahwa dalam menjalankan kebaikan dan menyeru pada kebenaran, kita akan dihadapkan pada tindakan bullying dari orang lain baik berupa perbuatan maupun kata-kata sarkas. Jangan menyerah dengan hal itu, karena itu sunnatullah. Jangan takut dengan kata-kata sarkas “sok suci”, “biar dibilang alim”, dll.

Hati Hati Ngomporin Orang Menikah

Posted: January 16, 2012 in Dakwah

Di sebuah forum, pembicara mengulas topik tentang perlunya menyegerakan menikah. Peserta forum itu terdiri dari bujang-bujang yang beberapa di antara mereka sudah masuk usia layak menikah dan punya kesiapan finansial yang memadai. Sindiran-sindiran pembicara cukup menusuk hingga membuat para peserta mesem-mesem. Di usia yang sudah harusnya menikah, kalau tidak disegerakan, memang membawa kekhawatiran kalau-kalau para bujang itu malah pacaran, atau bermaksiat yang lebih parah lagi. Jadi “pengomporan” yang dilakukan oleh pembicara itu wajar adanya.

Tapi sayang, di tengah peserta ada beberapa remaja usia SMA. Mereka ikut tertawa, ikut mesem-mesem, ikut mengangguk-angguk mendengarkan materi bersama peserta yang lain. Mereka setuju, pacaran harus dijauhi. Dan penggantinya, menikah harus disegerakan.

Kemudian pulanglah remaja usia SMA itu dan bertemu kedua orang tuanya. Berbekal materi-materi “kompor” yang didapat tadi, remaja itu memohon kepada orang tuanya agar segera dinikahkan. Nah lho…

Akhirnya orang tuanya cuma bisa mengelus dada dan keheranan dengan aktifitas pengajian si anak. “Pengajian macam apa ini?” Pikir mereka. Dan dari mulut si ibu, terlontar kata-kata: “Memang, kalau anak sudah ikut pengajian itu, nggak lama mereka akan minta nikah.” Maklum, si ibu sudah mendapati beberapa anak remaja tanggung ikut pengajian itu. Stigma tidak bisa dihindari, karena setiap anak remaja yang dilihatnya ikut pengajian itu, mereka akan merengek minta nikah.

Hadits yang berbunyi, “Berbicaralah kepada manusia menurut pengetahuan mereka.” (HR Ad-Dialami, Bukhori) Memang mengindikasikan  ada levelisasi pada kemampuan manusia dalam menangkap suatu retorika dan materi pembicaraan. Seperti tidak mungkin kita memberi pelajaran kalkulus pada anak SD, atau ushul fiqh pada anak yang baru belajar membaca Qur’an, materi yang mengandung provokasi untuk segera menikah rasanya terlalu dini diberikan pada anak remaja usia SMP atau SMA yang baru belajar Islam.

Memang tidak jarang seorang mentor menjawab pertanyaan, “Kak, kalau kita gak boleh pacaran, terus gimana kalo kita suka sama seseorang?”, dengan jawaban, “Islam tidak mengenal pacaran. Kalau kita suka sama seseorang, kita miliki dengan jalan yang halal, yaitu pernikahan.” Tentu seorang anak remaja puber yang mabuk kepayang dengan lawan jenis, dan pada saat yang sama ia mulai merasakan tentramnya hidup dalam jalan Islam, akan “kebelet” nikah agar cintanya berlabuh dengan indah dan halal. Dan kalau seperti ini, yang kaget adalah orang tua si anak.

Jawaban tadi tidak salah. Tapi kalau mau memberikan jawaban polos itu, lihat-lihtlah kondisi psikologis si remaja. Kalau misalnya diberikan jawaban, “Jodoh nggak kemana. Kehidupan kita telah diatur oleh Allah sebelum kita lahir di kitab Lauhul Mahfuzh. Sekarang kamu konsentrasi aja dulu belajar yang serius sampe lulus SMA dan lulus kuliah dan bekerja, fokus membentuk kepribadian yang muslim, dan membuat orang tua ridho. Perkuat cinta kamu kepada Allah karena cuma Dia yang berhak dicintai. Kalau Allah kehendaki, di saat kamu sudah siap berumah tangga, kamu akan menikah dengan dia.” Ya memang jawabannya panjang lebar. Dan tekankan agar anak itu melakukan hal-hal yang positif di usianya. Kalau belum apa-apa sudah diprovokasi menikah, konsentrasi belajarnya bisa buyar. Sayang kalau dakwah ini dipenuhi oleh remaja-remaja kebelet nikah dan melupakan prioritasnya di usianya.

Idealnya memang saat seorang anak sudah baligh, maka itulah saat yang tepat untuk menikah. Tapi dengan sistem pendidikan di negara ini, rasanya hal tersebut susah. Usia hingga SMA adalah usia wajib belajar. Sistem pendidikannya masih menerapkan disiplin yang ketat. Seragam hingga absensi diatur dengan ketat. Agak susah kalau anak usia SMA harus membagi perhatiannya antara belajar dengan mencari nafkah atau mengasuh anak. Beda dengan anak kuliahan yang sistem belajar di kampusnya tidak begitu ketat seperti SMP/SMA. Ada banyak cerita anak kuliahan yang sudah menikah.

Tapi walau masa kuliahan sudah lepas dari pendidikan penuh disiplin dan ketat, tetap saja seorang “pengompor” harus hati-hati memprovokasi anak kuliahan. Karena tidak semua orang punya kemampuan membagi waktu antara menikah dan belajar. Banyak kasus mahasiswa yang menikah namun kuliahnya berantakan. Kondisi tiap orang berbeda. Perhatikan prioritas dan potensi seseorang. Jangan sampai seorang kader dakwah yang punya potensi besar menjadi ahli di bidang tertentu, potensinya tenggelam karena terprovokasi untuk menikah dan kuliahnya jadi berantakan karena sibuk mencari uang dan gagal mengatur waktu.

Sebuah cerita lain, Seno adalah kader dakwah yang baru saja lulus kuliah dan baru saja diterima bekerja. Selama ini kuliahnya dibiayai oleh orang tuanya dan kakaknya. Orang tuanya pensiunan PNS berpangkat rendah dan hidupnya dibantu dengan pemberian anaknya yang sudah mapan. Gaji PNS-nya tidak memadai untuk kebutuhan sehari-hari.

Suatu hari Seno mengutarakan keinginannya untuk menikah kepada orang tuanya. Orang tuanya kaget dan pusing tujuh keliling. Tidak ada tabungan untuk membiayai pernikahan Seno. Bahkan Seno sendiri tidak punya apa-apa untuk hidup berumah tangga. Tidak punya kasur, lemari, perabotan, bahkan tabungan. Ia mengandalkan gaji barunya yang sebenarnya jauh dari cukup untuk menghidupi dua orang. Seno berkilah bahwa calon istrinya sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri. Orang tuanya bingung, bukankah menafkahi itu tugas suami. Orang tuanya berfikir apakah di pengajian Seno tidak diajarkan bahwa suami berkewajiban menafkahi istri?

Rupanya Seno mendapat “kompor” dari guru ngajinya, yang dulu menikah dalam kondisi serba tidak berkecukupan. “Ana aja bisa, tidur dengan kasur busa kecil, tinggal di petakan sempit. Makan kadang cuma pake tempe.” Semakin bingung orang tuanya, ini pengajian macam apa. Dan kakaknya marah-marah karena orang tuanya belum lagi menikmati gaji Seno, tapi Seno malah sudah buru-buru menghidupi orang lain. “Mana bakti kamu?” Tanya kakaknya. Itu baru kesiapan finansial yang nihil dimiliki Seno. Kesiapan ilmu? Seno sendiri baru beberapa bulan ikut pengajian.

Memang harus hati-hati memprovokasi seseorang untuk menikah. Kasus Seno akan menjadi kontraproduktif bagi dakwah. Kasusnya akan terdengar oleh keluarga besar, dan akan menimbulkan antipati bagi dakwah. Cerita seorang sahabat yang menikah dengan cincin besi, itu tepat diberikan pada bujang yang sudah semestinya menikah tapi takut miskin. Namun untuk bujang seperti Seno, ia masih punya waktu untuk menabung mempersiapkan diri menikah sehingga tidak perlu membuat pusing orang tuanya, atau malah mengandalkan hidup dari istrinya (walau istrinya rela). Ia sudah punya semangat menikah, tinggal dimenej dan diarahkan untuk persiapan yang cukup. Ayat “Kalau kamu miskin Allah akan mengkayakan kamu,” (QS An-Nur : 32) bukan berarti tergesa menikah dengan persiapan yang sangat minim, padahal kalau mau bersabar menunggu persiapan itu akan terpenuhi.

Kebanyakan orang tua kader dakwah adalah orang umum dan tidak punya latar belakang dunia dakwah. Mereka punya logika sendiri dalam menilai anaknya apakah sudah harus menikah atau belum. Remaja yang terjejal cerita idealis tentang orang yang sukses menikah dini, biasanya mendapat resistensi dari orang tuanya yang menilai bahwa usia menikah adalah usia di mana sang anak punya penghasilan yang mapan. Benturan ini bisa membuat buruk citra dakwah atau suatu pengajian.

Seorang pengompor tidak boleh lepas dari menjelaskan apa itu persiapan menikah, bila memprovokasi orang untuk menikah. Jangan menjelaskan yang manis-manis saja tentang pernikahan. Provokasi yang tepat sasaran adalah pada bujang yang punya persiapan namun punya keraguan untuk menikah, bukan pada remaja tanggung yang persiapannya nihil dan masih jauh namun rentan tergoda untuk tergesa menikah.

Naksir Dia? Pikirin Lagi Deh!

Posted: January 16, 2012 in Embun Taushiyah

Saat disuruh memikirkan alasan kenapa jatuh cinta, anak-anak mentoring asuhan Kak Riza di Rohani Islam SMA 823 pada protes karena menurut mereka cinta itu gak pake logika. Jadi tidak perlu memikirkan alasan yang tepat.

“Gak ada alasannya kak…”

“Ah yang bener? Emangnya kakak ga pernah ngerasain SMA? Usia kalian kan usia cinta monyet. Naksirnya biasanya gara-gara kagum dengan kelebihan tertentu.” Pancing Riza.

“Emang kenapa sih Kak? Iya, aku ada naksir cewek adek kelas. Alasannya karena dia cantik, dan tampangnya tipe saya banget Kak.” Seorang peserta memberi pengakuan polos. Peserta yang lain berdehem-dehem.

“Ok. Alasan pertama adalah kecantikan. Kalau antum, Yud, apa alasannya? Jangan batuk-batuk aja.” Ujar Riza.

Yudi, yang ditunjuk oleh sang mentor, nyengir dan menjawab, “Kalau saya, selain cantik, saya lagi naksir sama cewek yang pinter.”

“Mmm… Tau gwe..” Salah seorang dari peserta mentoring menyela.

“Kenapa Ris? Antum tau gebetan Yudi? Ok, jadi ada dua alasan. Cantik dan pintar. Kalau antum sendiri kenapa Ris?”  Riza melempar pertanyaan.

“Saya… Kalau saya suka sama seseorang karena dia sholehah, Kak.” Jawab Aris mantap.

“Ketua keputrian ya?” Celetuk yang lain.

“Baik, sekarang ada tiga alasan. Cantik, pintar, dan sholehah. Cukup deh.” Ujar Riza.

“Emang kenapa sih kak?” Tanya salah seorang dari peserta mentoring.

“Pernah terfikir gak oleh kalian, kalau alasan kalian menyukai gebetan kalian itu lemah.”

“Maksudnya Kak?”

“Kalau kalian suka sama seseorang karena cantik, coba jawab dengan jujur, siapa yang membuat dia cantik? Allah, atau kah dirinya sendiri yang bisa menghendaki kecantikan untuk dirinya? Dan siapa yang lebih indah, Allah ataukah gadis yang kalian sukai?”

Anak-anak peserta mentoring diam beberapa saat.

“Gimana?” Tanya Riza.

“Iya kak, Allah yang menghendaki seorang manusia itu cantik atau tidak. Dan Allah itu indah, jauh lebih indah daripada makhluk-Nya. Kan ada haditsnya kak, Allah itu indah dan menyukai keindahan.” Jawab salah seorang dari mereka.

“Nah, kalau begitu, kenapa tidak mencintai Allah saja?”

Riza membiarkan keadaan hening sejenak agar adik-adik mentinya bisa mencerna.

“Baik, sekarang kalau alasannya karena pintar, kembali lagi pertanyaannya siapa yang menganugerahkan gebetan kalian itu kecerdasan? Allah, ataukah dirinya sendiri?” Riza melanjutkan pembicaraan.

“Allah kak. Tapi kan dia bisa belajar supaya pintar.” Jawab salah seorang dari mereka.

“Ok, kalau dia sudah belajar mati-matian, tapi Allah tidak menghendaki dia pintar, apakah dia tetap bisa pintar?”

“Tidak, Kak.”

“Kalau kalian suka seseorang karena pintar, sekarang, siapa kah yang dzat Maha Mengetahui?”

“Allah, Kak.”

“Nah, kenapa tidak mencintai Allah saja?”

Peserta mentoring mengangguk-angguk.

“Dan terakhir, karena dia sholehah. Sama aja, siapa yang membuat dia sholehah?”

“Kak, Allah kan mengilhami dia antara jalan kebaikan dan keburukan, seperti dalam surat Asy-Syams, lalu dia memilih jalan kebaikan.Makanya dia sholehah.”

“Iya benar, tapi apakah antum mau menafikan hidayah Allah? Apakah antum mau menafikan taufik dan rahmat Allah yang membuat dia condong kepada kebaikan? Bukankah kalau Allah tidak menghendaki seseorang mendapat hidayah, maka tidak ada satu pun yang bisa memberi hidayah walau pun dirinya sendiri? Dia memang memilih jalan yang baik, tapi di situ ada taufiq dari Allah sehingga ia bisa memilih jalan kebaikan.”

Anak-anak peserta mentoring kembali mengangguk-angguk.

“Lalu sekali lagi, kenapa tidak mencintai Allah saja? Allah sumber kebaikan. Kalau kalian menemukan hal yang baik pada seseorang, harus kalian yakini bahwa kebaikannya itu bersumber dari Tuhan. Dan kalau mau mencintai seseorang karena kebaikannya, maka Allah yang pantas lebih dicintai. Cantik, pinter, baek, itu semua dari Allah. Jadi cintai Allah saja.

Riza mengamati wajah adik-adik binaannya satu persatu. Wajah mereka memperlihatkan mimic merenung.

“Kak. Kan ada pepatah yang berbunyi.. Mmm.. Waiting Trisno Jalanan Suko Kuliner. Intinya perasaan suka itu karena sering bersama. Nah, itu gimana kak, kalo kita jadi suka sama seseorang karena sering ketemu?”

“Misalnya sering ketemu di rapat departement PHBI ya?” Salah seorang nyeletuk, dan yang lain sontak bergumam, “Ciieee…..”

“Baik. Jadi mencintai seseorang karena seringnya berinteraksi.Nah, coba periksa hubungan kalian dengan Allah? Bukankah Allah selalu bersama kalian, walau pun kalian sedang sendiri? Bukankah Allah yang mengamati gerak-gerik kalian? Kalian juga rajin sholat, dan saat sholat kan ada interaksi dengan Allah? Apakah tidak cukup mencintai Allah lebih dari segalanya karena seringnya berinteraksi dengan Allah?”

Jawaban yang telak dari Riza. Dan kini mengertilah adik-adik binaan Riza bahwa tidak ada yang lebih berhak dicintai selain Allah swt.

*****

Rekan muda, ilustrasi di atas rasanya cukup untuk dijadikan renungan tentang persaan yang ada di hati kita masing-masing.

Jangan Ngasal Kalo Nyanyi

Posted: January 5, 2012 in Embun Taushiyah

Di sebuah mentoring pada suatu kampus, kakak kelas yang menjadi mentor bagi adik-adik kelasnya berpesan untuk hati-hati terhadap lirik lagu yang menyeret pada kekufuran. Setelah menerangkan surat Adz-Dzariyat 56, “Dan tidaklah Kuciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu (Allah swt)”, sang mentor memberi contoh lagu yang melawan ayat tersebut.

Hawa tercipta di dunia
Untuk menemani sang Adam
Begitu juga dirimu
Tercipta ‘tuk temani aku

“Nah, itu contoh lirik lagu yang berlawanan dengan Qur’an. Apakah Allah ridho kita merayu lawan jenis dengan mengatakan “kau tercipta untukku”, padahal dalam Al-Qur’an Allah telah menegaskan bahwa manusia itu tercipta untuk beribadah kepada Allah? Awas, jatohnya syirik lho..”

Lalu seorang peserta mentoring mendebat, “Kan bener bang, saat Adam kesepian di surga, Allah menciptakan Hawa untuk nemenin Adam.”

Kemudian sang mentor menjawab, “Apakah setelah Adam meninggal, Hawa ikut meninggal? Kan masa tugasnya sudah berakhir”. Begitu jawab si mentor.

Well, memang apa yang dikatakan mentor itu ada benarnya. Bahwa banyak lirik lagu yang tidak layak diucapkan karena bisa-bisa menyeret kita pada kesyirikan dan kekufuran. Sering ada lirik begini pada lagu metal (mellow total), “Aku tak bisa hidup tanpamu”. Coba pikir dengan akal sehat! Selain terlalu cengeng dan gak banget, syair seperti ini jelas mengesampingkan kekuasaan Allah swt. Allah yang menghidupkan dan mematikan. Juga syair “Kau lah segalanya bagiku”, di mana letak ikatan antara seorang muslim dengan Allah swt, bila keberadaan Dzat Yang Memberi Nikmat dipinggirkan oleh manusia yang dianggap segala-galanya. Naudzubillahi min dzalik.

Memang ada yang bakal menyanggah, “Ah.. itu kan cuma lagu. Seni.” Iya, tapi apakah sebuah seni tidak punya batasan? Apakah kita boleh bernyanyi semau kita hingga menghina Allah swt?

Lirik lagu Bruno Mars, yang berjudul “It Will Rain” yang baru-baru ini ngehits, juga mengandung lirik yang serem.

There’s no religion that could save me.
No matter how long my knees are on the floor

Terasa gak, dengan menyanyikan lagu itu, kita mendeklarasikan diri kita menjadi seorang atheis atau agnostic, atau apalah? Padahal kalau kita ngaji, jelas sekali Islam lah agama yang menyelamatkan kita dunia dan akhirat. Pantas kah kita menyanyikan lagu ini sementara setiap detik kita dilimpahkan nikmat oleh Allah swt? Kemana rasa sopan kita kepada Tuhan?

Ada lagi… Rasulullah saw telah bersabda, “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah sungguh telah musyrik. [HR Tirmidzi]. Pada hadits lain, “Setiap sumpah yang diucapkan tidak dengan nama Allah, termasuk perbuatan syirik.'” (HR Hakim). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab Fat-hul Baari (XI/531), “Sabda Nabi, ‘Maka ia telah kafir atau berbuat syirik,’ tujuannya adalah penegasan dan penekanan larangan. Hal ini telah dijadikan sandaran oleh para ulama yang mengharamkannya.”

Lalu coba rekan muda nilai lirik lagu yang dinyanyikan Rosa yang berbunyi: “…Kubersumpah atas nama cinta…” Jelas sekali tersirat bahwa si pencipta lirik bersumpah tidak dengan nama Allah, tapi atas nama cinta. Maunya sih indah… Tapi apa iya aturan agama bisa dikesampingkan demi terciptanya keindahan? Apa iya kita rela menyanyikan lagu yang punya konsekuensi yang sangat berat, bisa sampai pada kemusyrikan.

Karena hidup ini tidak ada sedetik pun tanpa nikmat Tuhan, maka tidak selayaknya kita tidak peduli atas ridho Tuhan sedetik pun. Termasuk saat bernyanyi, jangan memancing-mancing perbuatan yang Allah tidak ridhoi.

Terakhir, ada ayat yang bisa kita renungkan bersama. Ayat-ayat yang ada pada akhir surat Asy-Syu’ara. Bercerita tentang penyair yang menjadi teman syetan karena syair-syairnya yang menjerumuskan manusia pada kesesatan, kedustaan, dan hal-hal yang tidak diridhoi Allah.

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaithan-syaithan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah,  dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan (nya)?, Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut nama Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”(QS Asy-Syu’ara 221-227)

Manajemen Ghiroh

Posted: October 17, 2011 in Dakwah

Gelar ABG (Anak Baru Gede) biasanya diberikan pada anak yang baru memasuki masa remajanya. Dinamai baru gede karena mereka memasuki masa transisi antara dewasa dan anak-anak, di mana mereka sudah mulai dipercaya menjaga diri sendiri dan tidak dianggap menjadi anak-anak lagi.

Tingkah mereka ini kadang menggelikan dan kadang menjijikkan. Ketika mereka senyam-senyum sendiri karena mendapatkan cinta pertama mereka, mereka terlihat lucu dan menggemaskan. Ketika mereka kalang-kabut ketika mendapat jerawat pertama, mereka terlihat lucu, kasihan, dan menjijikkan apabila kita melihat jerawatnya. Ketika mereka mulai berani pulang malam, pergi ke bioskop, tak mau mendengarkan omongan orang lain, sok gede, dan… sudahlah, ntar penulis disangka curhat lagi…

Siswa yang baru masuk SMU biasanya adalah orang-orang yang berpredikat ABG ini. Gaya mereka terlihat canggung memakai seragam putih-abu-abu. Dan supaya mereka nggak sok gede, dan tahu diri bahwa mereka masih baru dan masih cilik, diadakanlah perploncoan oleh kakak kelasnya.

Keluarga Baru di SMU ini pun – atas rahmat Allah – ada yang mengikuti kegiatan Rohani Islam, ekskul di sekolahnya. Di sini mereka dibina sehingga mereka menjadi ABG.

ABG binaan Rohis ini berbeda dengan ABG anak baru gede. ABG binaan Rohis ini singkatannya ialah Anak Baru Ghiroh. Salah satu arti ghiroh dalam bahasa Arab ialah semangat. Anak Baru Ghiroh artinya anak yang baru mendapatkan ghirohnya dalam hal keislaman.

Tingkahnya tidak kalah menggelikan, tapi tidak menjijikkan insya Allah. Kita akan menjumpai anak yang tadinya doyan sinetron tiba-tiba berteriak “ghozwul fikri tuh, jangan nonton gituan.”, ketika melihat adiknya atau kakaknya menonton sinetron. Atau membentak, “Lu dari tadi gonjrang-gonjreng mlulu. Ngaji dong. Kayak orang kafir aja luh,” kepada adiknya yang sedang main gitar. Dan menunjuk play station sambil berkata, “ini thoghut tau!” Membuat satu rumah bengong melihat tingkahnya.

Memang kalau kita sebagai pembinanya, lalu melihat perubahan terhadap “ABG” kita bertingkah seperti itu, kelihatannya didikan kita berhasil. Kita bangga padanya. Namun tidak untuk keluarganya.

Tentu saja akan terjadi kejutan pada keluarganya yang bisa-bisa menjadi fitnah bagi si anak. Kasihan, bisa-bisa si anak dituduh ikut aliran macem-macem. Dan kita yang membinanya juga bisa dituduh mengajarkan aliran sesat. Orang tuanya tak kan melihat bagaimana kemajuan ibadah si anak, itu sih asyik-asyik aja bagi mereka. Tapi tudingan-tudiangan si anak yang membuat panas telinga mereka itulah yang akan mereka tanggapi.

Memanajemen ghiroh menjadi penting pada saat-saat seperti ini. Pengendalian semangat dan api kecemburuan terhadap maksiat berguna agar dakwah kita menjadi lancar. (Ghiroh juga berarti cemburu)

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memanajemen ghiroh:

1. Bersyukur kepada Allah.

Ghiroh yang kita dapatkan ini adalah semata-mata dari Allah. Itulah yang harus kita perhatikan dan kita tanamkan dalam diri kita. Hal ini agar dalam setiap hal perbuatan kita, kita selalu mengingat kebaikan Allah atas kita.

Di mobil, sepulang dari pengajian, ingatlah kebaikan Allah pada kita dalam bentuk ghiroh baru ini. Maka tak terasa air mata mengalir membelah senyuman kesyukuran. Syukur membuat nikmat kita bertambah. Maka dengan mensyukuri ghiroh ini, akan menjaga ghiroh kita agar tetap awet muda. Tak lapuk karena hujan dan tak lekang karena panas.

Rasa syukur ini harusnya memicu kesadaran bahwa semua perubahan pada diri kita berasal dari Allah swt. Dan kesadaran ini harus mencegah kita dari rasa sombong dan ujub, sehingga merendahkan orang lain yang belum tersentuh hidayah.

2. Upayakan sekeras mungkin untuk melakukan penahapan dalam peningkatan amal.

Wuaaah… gejolak semangat yang begitu besar ini membuat kita menggebu-gebu untuk bangun malam, shoum senin-kamis (bahkan tak jarang sampai daud), tilawah setengah juz, dll. Yang tadinya pas-pasan dalam amalan, sekarang membludak kaya akan amalan.

Bukannya buruk, hanya saja Rasulullah pernah menyindir seorang sahabat yang tidak konsisten dengan amalnya. Di suatu malam banyak beribadah, tapi malam berikutnya minim ibadah.

Bisa saja kita sehari dua hari mampu tilawah sampai setengah juz. Tapi pada hari ketiga keempat, karena kesibukan, kita tidak tilawah sama sekali. Atau tilawahnya mundur jadi setengah halaman doang. Bukankah kemunduran itu adalah kerugian? Bahkan termasuk kategori kerugian apabila hari ini sama dengan kemarin.

Upayakan, sekalipun gelora semangat ini begitu besar, melakukan penahapan dalam peningkatan amalan. Selama ini tilawah kalau kepengen saja, eh tiba-tiba selama dua hari tilawahnya setengah juz. Bisa-bisa besok kita jengah dengan tilawah. Suatu hal yang buruk.

3. Ingat akan masa futur atau masa jemu.

Iman itu ada masa naik dan masa turun. Mungkin kita bingung, bagaimana keimanan itu turun?

Begitulah. Ada masa-masa di mana kita mulai bosan dengan ibadah yang kita lakukan. Ada kala di mana kita rindu akan linkin park yang baru kemarin kita caci maki karena telah melalaikan kita selama ini. Itu tak terelakkan karena sudah menjadi fitrah manusia.

Sering simpati manusia beralih menjadi benci kepada seseorang yang tadinya terlihat begitu takwa di hadapan manusia, namun ketika di masa futur, ia terlihat sangat berlawanan. Seorang ABG selalu dibayang-bayangi perkataan, “ah, lu cuma bisa ngomong doang,” dari orang banyak yang akan ditemuinya di kala futur. Berhati-hatilah, karena bisa-bisa kita dibenci oleh orang-orang yang selama ini kita beri teguran. Yang baik bukannya kita tidak beramar ma’ruf nahi munkar, tetapi ketika futur, apa yang kita ucapkan tetaplah harus kita laksanakan sekuat mungkin.

Perintah Rasulullah kepada kita untuk menjaga lima kondisi sebelum lima kondisi, sebenarnya juga berlaku untuk berbagai kondisi yang memiliki kondisi kebalikannya. Masa kenaikan iman juga harus dijaga sebelum masa penurunan iman. Dalam hal ini, poin nomor 2, atau penahapan dalam beramal, adalah aktualisasi penjagaannya.

Ingatlah wahai rekan muda yang termasuk ABG, masa futur suatu saat tak akan kalian elakkan. Dan berhati-hatilah terhadap masa ini.

4. Syamil (menyeluruh) dalam menyalurkan ghiroh.

Tidak adil kalau kita hanya menyalurkan semangat sebatas pada kebencian kita dengan Zionis, dengan Ghozwul Fikri, dengan sinetron, film, de el el. Juga sebatas penambahan frekuensi sholat, merajinkan shoum, mati-matian tilawah, dan amalan-amalan hablumminallah.

Semangat kita pada Islam juga harus kita salurkan pada amalan-amalan yang bersifat hablumminannas (hubungan pada manusia). Misalnya berbuat baik pada orang tua, berhusnuzhon (baik sangka) dan menjauhkan diri dari su’udzhon (buruk sangka), membantu sesama muslim, memberi salam, dll.

Semangat lahir bersamaan dengan kecintaan kita yang bertambah pada Allah swt. Maka sebagai bukti kecintaan kita, tidak cukup dengan ibadah mahdoh saja, juga harus ditambah dengan ibadah yang berhubungan dengan manusia.

5. Selalu jaga sikap Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang lahir dari ghiroh baru itu sungguh sangat positif. Sebenarnya inilah hal yang paling baik yang didapat dari adanya ghiroh, karena bisa membuat sang anak menjadi manusia terbaik (3:104).

Amar Ma’ruf Nahi Munkar ini haruslah seimbang. Kadang-kadang ada ABG yang doyang mencela ini itu. Memang itu termasuk Nahi Munkar. Tapi jangan sampai ia tidak melakukan Amar Ma’ruf. Adik yang demen Westlife dimarahin, tapi ketika adzan berkumandang, cuek saja dengan adik yang melalaikan sholat.

Sikap amar ma’ruf nahi munkar ini harus selalu dilestarikan. Dan sekali lagi, hati-hati ketika tiba saat futur. Karena biasanya di saat itu kita tidak melaksanakan apa yang kita umbar selama ini. Sekali lagi hal ini bisa mengundang kebencian orang. Saat futur adalah saat bermujahadah untuk melaksanakan apa yang kita ucapkan.