Tertancap ke bumi

Posted: June 9, 2007 in Embun Taushiyah

Alkisah ada seseorang konglomerat terkaya di dunia ini yang baru saja membeli tanah yang amat luas. Ia bangga sekali dengan apa yang dimilikinya. Sehingga dia beranggapan bahwa daerah yang paling luas yang pernah dimiliki oleh seseorang adalah daerah kekuasaannya.

Untuk menikmati luasnya wilayah yang baru dimilikinya itu, ia memutuskan untuk berkeliling dengan menggunakan kendaraan. Ia memilih mobil mewah yang punya kecepatan yang tinggi. Ia ingin tahu, berapa banyak hari yang akan ia habiskan untuk mengelilingi wilayahnya itu.

Maka dimulailah perjalanan itu. Bersama beberapa supir pribadi dan rombongan, ia melintasi pegunungan, sungai-sungai, tepi laut, danau, dan daerah-daerah yang baru sekali itu ia lihat selama beberapa hari. Padahal ia telah dipacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, tapi tetapi tidak juga kunjung ia temukan titik akhir perjalanan.

Pada akhirnya ia putuskan untuk kembali ke rumahnya. Ia sangat puas. Sangat puas. Ia merasa telah memiliki wilayah yang begitu luasnya. Dan ia sangat terkagum-kagum dengan keluasan wilayahnya itu. Ia begitu mencintai tanah yang teramat sangat luas tersebut.

Suatu hari konglomerat ini tertantang untuk menembus angkasa raya dengan satelit. Memiliki uang yang banyak membuat ia mudah mengatur semuanya. Maka pada hari yang telah ditentukan, ia bersiap untuk menuju angkasa luas dengan sebuah satelit.

Perhitungan mundur dilakukan. Saat mencapai hitungan nol, satelit meluncur ke atas. Dari ketinggian, ia bisa melihat-lihat luasnya bumi dan luasnya wilayah yang ia miliki. Masih ia terkagum-kagum dengan luasnya wilayah yang ia miliki.

Tetapi semakin tinggi satelit naik, semakin terlihat kecil wilayahnya. Terus begitu, semakin tinggi satelit naik, semakin kecil bumi terlihat. Bahkan wilayahnya bisa ia jangkau dengan jengkalnya. Hingga akhirnya ia hanya melihat bumi sebesar kelereng.

Di ketinggian itulah ia menyadari bahwa wilayah yang ia punya tidaklah seberapa. Kecil dibandingkan alam raya ini.

Rekan muda, perhatikanlah bagaimana kisah itu menjadi metafora bagi kehidupan kita. Apabila boleh diumpamakan tingginya ruhiyah seseorang dengan tingginya posisi seseorang di angkasa, maka semakin tinggi ruhiyah seseorang maka akan kehidupan dunia ini akan semakin terlihat kecil baginya.

Allah menyebut dengan kata “tsaqoltum ilal ardh” (tertahan/tertancap ke bumi) bagi orang mukmin yang malas pergi ke medan jihad ketika ada seruan untuk berjihad. (At-Taubah 38). Dan pada ayat itu, kepada orang-orang yang tertahan di bumi, Allah bertanya, “Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal keni’matan hidup di dunia ini diakhirat hanyalah sedikit.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s