Zainab r.ha.

Posted: June 1, 2007 in Siroh

Ummul Mu’minin Zainab r.ha. adalah seorang putri paman Rasulullah saw, alias sepupunya Rasulullah saw.  Pada mulanya, Zainab menikah dengan Zaid r.a., salah seorang hamba sahaya yang telah dimerdekakan oleh Rasulullah saw. Zaid sendiri, setelah dimerdekakan, tetap ingin bekerja kepada Rasulullah sehingga beliau begitu dekat dengan Rasulullah. Saking dekatnya, Zaid menjadi anak angkat Rasulullah dan sangat disayangi oleh Rasulullah saw. Karena itulah, Zaid memiliki julukan Zaid bin Muhammad saw.

Pernikahan Zainab dengan Zaid tidak dapat berlangsung lama, karena perbedaan kebiasaan dan latar belakang. Zaid berlatar belakang budak dan terbiasa dengan kehidupannya. Sedangkan Zainab adalah seorang bangsawan. Karena sulit untuk beradaptasi, keduanya pun sepakat bercerai. Namun perceraian inilah pembuka pintu hikmah, terjadinya sebuah revolusi adat oleh Islam.

Perceraian membuat Zainab halal untuk dinikahi, termasuk oleh Rasulullah saw. Namun pada waktu itu, adat menyamakan antara anak angkat dengan anak kandung. Konsekuensinya, seseorang tidak dapat menikahi mantan istri anaknya, termasuk anak angkatnya. Hal ini yang dibantah oleh Islam melalui kejadian yang dibuka oleh perceraian Zainab dan Zaid. Anak angkat berbeda dengan anak kandung.

Rasulullah mendobrak tradisi ini dengan melamar Zainab. Masyarakat pun geger dengan adanya pelanggaran tradisi ini. Namun the show must go on.

Terhadap lamaran Rasulullah, Zainab malah menjawab, “Aku akan bermusyawarah terlebih dahulu dengan Rabbku.” Kemudian Zainab mengambil air wudhu dan mengerjakan shalat.

Akhirnya Allah pun menjawab konsultasi Zainab dengan ayat, “Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia, supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk mengawini istri-istri anak-anak angkat mereka apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (Al-Ahzab: 37).

Begitu diberitahu tentang kabar gembira ini, Zainab mengeluarkan perhiasan yang dipakainya dan diberikan kepada orang yang menyampaikan kabar gembira tersebut.

Ada kebanggaan dalam diri Zainab. Semua istri Rasulullah dinikahkan oleh manusia, dalam hal ini adalah keluarga mereka sendiri, sedangkan Zainab dinikahkan oleh Allah swt.

Karena Aisyah r.ha. juga bangga karena merupakan salah seorang istri yang paling dicintai Rasulullah saw., maka di antara keduanya terjadi persaingan. Namun persaingan ini tidak sampai menjerumuskan mereka ke hal-hal yang dibenci Allah. Contohnya, ketika terjadi fitnah bagi Aisyah r.ha., Zainab hanya berkomentar, “setahu saya Aisyah adalah seorang yang baik, dan saya paham bahwa ia adalah seorang yang shalih.” Zainab tidak menjatuhkan martabat Aisyah, sekalipun ia berkesempatan seperti itu.

Zainab r.ha. adalah seorang wara’. Ia banyak berpuasa dan banyak mengerjakan shalat-shalat sunnah dan nafilah, dan biasa bekerja dengan tangannya sendiri. Dan setelah mendapatkan hasil dari pekerjaannya, maka hasilnya ia sedekahkan.

Pada saat Rasulullah hendak wafat, maka apra istri Rasulullah bertanya pada Rasulullah tentang siapa yang paling dahulu wafat setelah Rasulullah saw. Rasulullah hanya menjawab yang paling panjang tangannya. Maka mereka pun segera mengukur tangan mereka dengan kayu. Tapi kemudian diketahui bahwa maksudnya adalah yang paling banyak mengeluarkan harta untuk sedekah. Bukan maling lho, rekan muda. Dan ternyata, yang paling panjang tangannya adalah Zainab r.ha. karena ia sangat gemar berinfak.

Ada sebuah peristiwa ketika zaman kekhalifahan Umar r.a., Umar telah menetapkan gaji untuk para istri Rasulullah saw. Kemudian gaji tersebut dikirimkan kepada setiap istri Rasulullah saw. sebanyak 12.000 dirham setiap tahunnya. Demikian pula kepada Zainab r.ha, telah dikirim jumlah yang sama. Tetapi ia menyangka bahwa uang tersebut untuk semua istri Rasulullah saw. Ia berkata kepada utusan yang membawa uang tersebut, “Sebaiknya diberikan saja kepada istri-istri Rasulullah lainnya.” Utusan tersebut berkata, “Uang ini semuanya adalah bagian engkau, dan ini untuk satu tahun.”

Pada akhirnya uang tersebut Zainab perintahkan kepada seseorang untuk dibagi-bagikan kepada fakir miskin, janda-janda tua dan anak-anak yatim, termasuk kepada orang yang membagikan itu sehingga tidak bersisa lagi.

Zainab hanya mengangkat tangannya dan berdo’a, “Ya Allah, pada tahun depan jangan sampai harta seperti ini datang kepadaku yang kedatangannya akan menjadi fitnah bagiku.” Memang benar, pada tahun berikutnya Zainab meninggal dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s