Penyesalan

Posted: June 1, 2007 in Embun Taushiyah

Suatu hari tersebutlah seorang raja yang memiliki beberapa putra yang cerdas-cerdas. Putra-putranya itu kini sedang didik oleh para pendidik istana beserta putra-putra petinggi istana lainnya.

Suatu hari ada seorang rakyatnya yang memberinya upeti berupa sebuah peti berukuran sedang yang berisi emas. Emas itu bukan berupa cincin, gelang atau kalung, bukan juga berupa batangan, tapi berupa bubuk emas. Dan sang raja ingin memberi bubuk-bubuk emas ini kepada putranya dan sekaligus ingin mengujinya. Bagaimana caranya?

Setelah berunding dengan penasehat kerajaan, maka didapatlah suatu pembagian yang unik. Maka dipanggillah putra-putranya itu pada hari pembagian. Sebelumnya putra-putranya itu belum tahu kalau mereka akan diberi bubuk emas itu oleh ayahnya.

Semua putra raja telah berkumpul di aula istana. Kemudian sang penasehat mengumumkan kepada mereka bahwa terdapat sebuah kantung yang mereka semua diharuskan mengambil isi di dalamnya. Seberapa besar yang diambil tidak ditentukan. Terserah masing-masing mereka, ingin mengambil sedikit, banyak, sedang, pokoknya sekehendak mereka saja. Boleh juga tidak mengambil. Satu catatan, berapa pun banyak mereka mengambil isi dalam kantung tersebut, mereka akan menyesal.

Menyesal? Para putra raja sedikit bingung mendengarnya. Namun pada akhirnya diambil juga isi dalam kantung tersebut. Mata mereka ditutup (agar tidak melihat isi dalam kantung tersebut) dan masing-masing putra mahkota secara bergantian mengulurkan tangannya ke dalam kantung besar tersebut. Ada yang mengambil banyak, ada juga yang mengambil sedikit. Ada yang tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit.

Yang mengambil banyak menimbang bahwa toh walau pun sedikit dia akan menyesal juga. Lebih baik mengambil banyak sekalian.

Yang mengambil sedikit berpikiran agar menyesalnya tidak terlalu besar.

Begitulah hingga akhirnya mereka semua telah menggenggam bubuk emas. Setelah tutup mata dibuka, terkejutlah mereka bahwa mereka menggenggam bubuk emas.

Penyesalan itu pun terjadi. Yang mengambil sedikit menyesal bahwa dia tidak begitu banyak mengambilnya. Yang sedang-sedang saja juga seperti itu. Menyesal tidak mengambilnya banyak-banyak sekalian. Dan yang mengambil banyak juga tidak kalah menyesal. Dia merasa kurang mengambilnya. Menyesal hanya sebanyak itu dan merasa kurang.

Rekan muda, seperti itulah perumpamaan kita kelak di akhirat nanti. Kita semua pasti menyesal di akhirat.

Yang amal solehnya kurang jelas menyesal hingga ia masuk ke neraka. Ia berfikir andai saja ia bisa dibalikkan kembali ke dunia dan beramal lebih banyak lagi.

Yang amal solehnya pas-pasan, juga menyesal karena seharusnya ia bisa mendapatkan surga lebih atas kalau saja ia pergunakan waktunya dengan baik di dunia ini.

Yang amal solehnya banyak, juga menyesal. Ia berfikir andai kata di dunia ini ia beramal lebih banyak dari yang ia amalkan.

Begitulah penyesalan yang akan kita temui di akhirat nanti. Rekan muda, sudah siapkah untuk menyesal? Setidaknya penyesalan kita tidak terlalu parah di akhirat. Maka persiapkanlah diri kita masing-masing dengan banyak beramal soleh selagi di dunia ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s