1 Comment

Hati Hati Ngomporin Orang Menikah

Di sebuah forum, pembicara mengulas topik tentang perlunya menyegerakan menikah. Peserta forum itu terdiri dari bujang-bujang yang beberapa di antara mereka sudah masuk usia layak menikah dan punya kesiapan finansial yang memadai. Sindiran-sindiran pembicara cukup menusuk hingga membuat para peserta mesem-mesem. Di usia yang sudah harusnya menikah, kalau tidak disegerakan, memang membawa kekhawatiran kalau-kalau para bujang itu malah pacaran, atau bermaksiat yang lebih parah lagi. Jadi “pengomporan” yang dilakukan oleh pembicara itu wajar adanya.

Tapi sayang, di tengah peserta ada beberapa remaja usia SMA. Mereka ikut tertawa, ikut mesem-mesem, ikut mengangguk-angguk mendengarkan materi bersama peserta yang lain. Mereka setuju, pacaran harus dijauhi. Dan penggantinya, menikah harus disegerakan.

Kemudian pulanglah remaja usia SMA itu dan bertemu kedua orang tuanya. Berbekal materi-materi “kompor” yang didapat tadi, remaja itu memohon kepada orang tuanya agar segera dinikahkan. Nah lho…

Akhirnya orang tuanya cuma bisa mengelus dada dan keheranan dengan aktifitas pengajian si anak. “Pengajian macam apa ini?” Pikir mereka. Dan dari mulut si ibu, terlontar kata-kata: “Memang, kalau anak sudah ikut pengajian itu, nggak lama mereka akan minta nikah.” Maklum, si ibu sudah mendapati beberapa anak remaja tanggung ikut pengajian itu. Stigma tidak bisa dihindari, karena setiap anak remaja yang dilihatnya ikut pengajian itu, mereka akan merengek minta nikah.

Hadits yang berbunyi, “Berbicaralah kepada manusia menurut pengetahuan mereka.” (HR Ad-Dialami, Bukhori) Memang mengindikasikan  ada levelisasi pada kemampuan manusia dalam menangkap suatu retorika dan materi pembicaraan. Seperti tidak mungkin kita memberi pelajaran kalkulus pada anak SD, atau ushul fiqh pada anak yang baru belajar membaca Qur’an, materi yang mengandung provokasi untuk segera menikah rasanya terlalu dini diberikan pada anak remaja usia SMP atau SMA yang baru belajar Islam.

Memang tidak jarang seorang mentor menjawab pertanyaan, “Kak, kalau kita gak boleh pacaran, terus gimana kalo kita suka sama seseorang?”, dengan jawaban, “Islam tidak mengenal pacaran. Kalau kita suka sama seseorang, kita miliki dengan jalan yang halal, yaitu pernikahan.” Tentu seorang anak remaja puber yang mabuk kepayang dengan lawan jenis, dan pada saat yang sama ia mulai merasakan tentramnya hidup dalam jalan Islam, akan “kebelet” nikah agar cintanya berlabuh dengan indah dan halal. Dan kalau seperti ini, yang kaget adalah orang tua si anak.

Jawaban tadi tidak salah. Tapi kalau mau memberikan jawaban polos itu, lihat-lihtlah kondisi psikologis si remaja. Kalau misalnya diberikan jawaban, “Jodoh nggak kemana. Kehidupan kita telah diatur oleh Allah sebelum kita lahir di kitab Lauhul Mahfuzh. Sekarang kamu konsentrasi aja dulu belajar yang serius sampe lulus SMA dan lulus kuliah dan bekerja, fokus membentuk kepribadian yang muslim, dan membuat orang tua ridho. Perkuat cinta kamu kepada Allah karena cuma Dia yang berhak dicintai. Kalau Allah kehendaki, di saat kamu sudah siap berumah tangga, kamu akan menikah dengan dia.” Ya memang jawabannya panjang lebar. Dan tekankan agar anak itu melakukan hal-hal yang positif di usianya. Kalau belum apa-apa sudah diprovokasi menikah, konsentrasi belajarnya bisa buyar. Sayang kalau dakwah ini dipenuhi oleh remaja-remaja kebelet nikah dan melupakan prioritasnya di usianya.

Idealnya memang saat seorang anak sudah baligh, maka itulah saat yang tepat untuk menikah. Tapi dengan sistem pendidikan di negara ini, rasanya hal tersebut susah. Usia hingga SMA adalah usia wajib belajar. Sistem pendidikannya masih menerapkan disiplin yang ketat. Seragam hingga absensi diatur dengan ketat. Agak susah kalau anak usia SMA harus membagi perhatiannya antara belajar dengan mencari nafkah atau mengasuh anak. Beda dengan anak kuliahan yang sistem belajar di kampusnya tidak begitu ketat seperti SMP/SMA. Ada banyak cerita anak kuliahan yang sudah menikah.

Tapi walau masa kuliahan sudah lepas dari pendidikan penuh disiplin dan ketat, tetap saja seorang “pengompor” harus hati-hati memprovokasi anak kuliahan. Karena tidak semua orang punya kemampuan membagi waktu antara menikah dan belajar. Banyak kasus mahasiswa yang menikah namun kuliahnya berantakan. Kondisi tiap orang berbeda. Perhatikan prioritas dan potensi seseorang. Jangan sampai seorang kader dakwah yang punya potensi besar menjadi ahli di bidang tertentu, potensinya tenggelam karena terprovokasi untuk menikah dan kuliahnya jadi berantakan karena sibuk mencari uang dan gagal mengatur waktu.

Sebuah cerita lain, Seno adalah kader dakwah yang baru saja lulus kuliah dan baru saja diterima bekerja. Selama ini kuliahnya dibiayai oleh orang tuanya dan kakaknya. Orang tuanya pensiunan PNS berpangkat rendah dan hidupnya dibantu dengan pemberian anaknya yang sudah mapan. Gaji PNS-nya tidak memadai untuk kebutuhan sehari-hari.

Suatu hari Seno mengutarakan keinginannya untuk menikah kepada orang tuanya. Orang tuanya kaget dan pusing tujuh keliling. Tidak ada tabungan untuk membiayai pernikahan Seno. Bahkan Seno sendiri tidak punya apa-apa untuk hidup berumah tangga. Tidak punya kasur, lemari, perabotan, bahkan tabungan. Ia mengandalkan gaji barunya yang sebenarnya jauh dari cukup untuk menghidupi dua orang. Seno berkilah bahwa calon istrinya sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri. Orang tuanya bingung, bukankah menafkahi itu tugas suami. Orang tuanya berfikir apakah di pengajian Seno tidak diajarkan bahwa suami berkewajiban menafkahi istri?

Rupanya Seno mendapat “kompor” dari guru ngajinya, yang dulu menikah dalam kondisi serba tidak berkecukupan. “Ana aja bisa, tidur dengan kasur busa kecil, tinggal di petakan sempit. Makan kadang cuma pake tempe.” Semakin bingung orang tuanya, ini pengajian macam apa. Dan kakaknya marah-marah karena orang tuanya belum lagi menikmati gaji Seno, tapi Seno malah sudah buru-buru menghidupi orang lain. “Mana bakti kamu?” Tanya kakaknya. Itu baru kesiapan finansial yang nihil dimiliki Seno. Kesiapan ilmu? Seno sendiri baru beberapa bulan ikut pengajian.

Memang harus hati-hati memprovokasi seseorang untuk menikah. Kasus Seno akan menjadi kontraproduktif bagi dakwah. Kasusnya akan terdengar oleh keluarga besar, dan akan menimbulkan antipati bagi dakwah. Cerita seorang sahabat yang menikah dengan cincin besi, itu tepat diberikan pada bujang yang sudah semestinya menikah tapi takut miskin. Namun untuk bujang seperti Seno, ia masih punya waktu untuk menabung mempersiapkan diri menikah sehingga tidak perlu membuat pusing orang tuanya, atau malah mengandalkan hidup dari istrinya (walau istrinya rela). Ia sudah punya semangat menikah, tinggal dimenej dan diarahkan untuk persiapan yang cukup. Ayat “Kalau kamu miskin Allah akan mengkayakan kamu,” (QS An-Nur : 32) bukan berarti tergesa menikah dengan persiapan yang sangat minim, padahal kalau mau bersabar menunggu persiapan itu akan terpenuhi.

Kebanyakan orang tua kader dakwah adalah orang umum dan tidak punya latar belakang dunia dakwah. Mereka punya logika sendiri dalam menilai anaknya apakah sudah harus menikah atau belum. Remaja yang terjejal cerita idealis tentang orang yang sukses menikah dini, biasanya mendapat resistensi dari orang tuanya yang menilai bahwa usia menikah adalah usia di mana sang anak punya penghasilan yang mapan. Benturan ini bisa membuat buruk citra dakwah atau suatu pengajian.

Seorang pengompor tidak boleh lepas dari menjelaskan apa itu persiapan menikah, bila memprovokasi orang untuk menikah. Jangan menjelaskan yang manis-manis saja tentang pernikahan. Provokasi yang tepat sasaran adalah pada bujang yang punya persiapan namun punya keraguan untuk menikah, bukan pada remaja tanggung yang persiapannya nihil dan masih jauh namun rentan tergoda untuk tergesa menikah.

Leave a comment

Naksir Dia? Pikirin Lagi Deh!

Saat disuruh memikirkan alasan kenapa jatuh cinta, anak-anak mentoring asuhan Kak Riza di Rohani Islam SMA 823 pada protes karena menurut mereka cinta itu gak pake logika. Jadi tidak perlu memikirkan alasan yang tepat.

“Gak ada alasannya kak…”

“Ah yang bener? Emangnya kakak ga pernah ngerasain SMA? Usia kalian kan usia cinta monyet. Naksirnya biasanya gara-gara kagum dengan kelebihan tertentu.” Pancing Riza.

“Emang kenapa sih Kak? Iya, aku ada naksir cewek adek kelas. Alasannya karena dia cantik, dan tampangnya tipe saya banget Kak.” Seorang peserta memberi pengakuan polos. Peserta yang lain berdehem-dehem.

“Ok. Alasan pertama adalah kecantikan. Kalau antum, Yud, apa alasannya? Jangan batuk-batuk aja.” Ujar Riza.

Yudi, yang ditunjuk oleh sang mentor, nyengir dan menjawab, “Kalau saya, selain cantik, saya lagi naksir sama cewek yang pinter.”

“Mmm… Tau gwe..” Salah seorang dari peserta mentoring menyela.

“Kenapa Ris? Antum tau gebetan Yudi? Ok, jadi ada dua alasan. Cantik dan pintar. Kalau antum sendiri kenapa Ris?”  Riza melempar pertanyaan.

“Saya… Kalau saya suka sama seseorang karena dia sholehah, Kak.” Jawab Aris mantap.

“Ketua keputrian ya?” Celetuk yang lain.

“Baik, sekarang ada tiga alasan. Cantik, pintar, dan sholehah. Cukup deh.” Ujar Riza.

“Emang kenapa sih kak?” Tanya salah seorang dari peserta mentoring.

“Pernah terfikir gak oleh kalian, kalau alasan kalian menyukai gebetan kalian itu lemah.”

“Maksudnya Kak?”

“Kalau kalian suka sama seseorang karena cantik, coba jawab dengan jujur, siapa yang membuat dia cantik? Allah, atau kah dirinya sendiri yang bisa menghendaki kecantikan untuk dirinya? Dan siapa yang lebih indah, Allah ataukah gadis yang kalian sukai?”

Anak-anak peserta mentoring diam beberapa saat.

“Gimana?” Tanya Riza.

“Iya kak, Allah yang menghendaki seorang manusia itu cantik atau tidak. Dan Allah itu indah, jauh lebih indah daripada makhluk-Nya. Kan ada haditsnya kak, Allah itu indah dan menyukai keindahan.” Jawab salah seorang dari mereka.

“Nah, kalau begitu, kenapa tidak mencintai Allah saja?”

Riza membiarkan keadaan hening sejenak agar adik-adik mentinya bisa mencerna.

“Baik, sekarang kalau alasannya karena pintar, kembali lagi pertanyaannya siapa yang menganugerahkan gebetan kalian itu kecerdasan? Allah, ataukah dirinya sendiri?” Riza melanjutkan pembicaraan.

“Allah kak. Tapi kan dia bisa belajar supaya pintar.” Jawab salah seorang dari mereka.

“Ok, kalau dia sudah belajar mati-matian, tapi Allah tidak menghendaki dia pintar, apakah dia tetap bisa pintar?”

“Tidak, Kak.”

“Kalau kalian suka seseorang karena pintar, sekarang, siapa kah yang dzat Maha Mengetahui?”

“Allah, Kak.”

“Nah, kenapa tidak mencintai Allah saja?”

Peserta mentoring mengangguk-angguk.

“Dan terakhir, karena dia sholehah. Sama aja, siapa yang membuat dia sholehah?”

“Kak, Allah kan mengilhami dia antara jalan kebaikan dan keburukan, seperti dalam surat Asy-Syams, lalu dia memilih jalan kebaikan.Makanya dia sholehah.”

“Iya benar, tapi apakah antum mau menafikan hidayah Allah? Apakah antum mau menafikan taufik dan rahmat Allah yang membuat dia condong kepada kebaikan? Bukankah kalau Allah tidak menghendaki seseorang mendapat hidayah, maka tidak ada satu pun yang bisa memberi hidayah walau pun dirinya sendiri? Dia memang memilih jalan yang baik, tapi di situ ada taufiq dari Allah sehingga ia bisa memilih jalan kebaikan.”

Anak-anak peserta mentoring kembali mengangguk-angguk.

“Lalu sekali lagi, kenapa tidak mencintai Allah saja? Allah sumber kebaikan. Kalau kalian menemukan hal yang baik pada seseorang, harus kalian yakini bahwa kebaikannya itu bersumber dari Tuhan. Dan kalau mau mencintai seseorang karena kebaikannya, maka Allah yang pantas lebih dicintai. Cantik, pinter, baek, itu semua dari Allah. Jadi cintai Allah saja.

Riza mengamati wajah adik-adik binaannya satu persatu. Wajah mereka memperlihatkan mimic merenung.

“Kak. Kan ada pepatah yang berbunyi.. Mmm.. Waiting Trisno Jalanan Suko Kuliner. Intinya perasaan suka itu karena sering bersama. Nah, itu gimana kak, kalo kita jadi suka sama seseorang karena sering ketemu?”

“Misalnya sering ketemu di rapat departement PHBI ya?” Salah seorang nyeletuk, dan yang lain sontak bergumam, “Ciieee…..”

“Baik. Jadi mencintai seseorang karena seringnya berinteraksi.Nah, coba periksa hubungan kalian dengan Allah? Bukankah Allah selalu bersama kalian, walau pun kalian sedang sendiri? Bukankah Allah yang mengamati gerak-gerik kalian? Kalian juga rajin sholat, dan saat sholat kan ada interaksi dengan Allah? Apakah tidak cukup mencintai Allah lebih dari segalanya karena seringnya berinteraksi dengan Allah?”

Jawaban yang telak dari Riza. Dan kini mengertilah adik-adik binaan Riza bahwa tidak ada yang lebih berhak dicintai selain Allah swt.

*****

Rekan muda, ilustrasi di atas rasanya cukup untuk dijadikan renungan tentang persaan yang ada di hati kita masing-masing.

1 Comment

Jangan Ngasal Kalo Nyanyi

Di sebuah mentoring pada suatu kampus, kakak kelas yang menjadi mentor bagi adik-adik kelasnya berpesan untuk hati-hati terhadap lirik lagu yang menyeret pada kekufuran. Setelah menerangkan surat Adz-Dzariyat 56, “Dan tidaklah Kuciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu (Allah swt)”, sang mentor memberi contoh lagu yang melawan ayat tersebut.

Hawa tercipta di dunia
Untuk menemani sang Adam
Begitu juga dirimu
Tercipta ‘tuk temani aku

“Nah, itu contoh lirik lagu yang berlawanan dengan Qur’an. Apakah Allah ridho kita merayu lawan jenis dengan mengatakan “kau tercipta untukku”, padahal dalam Al-Qur’an Allah telah menegaskan bahwa manusia itu tercipta untuk beribadah kepada Allah? Awas, jatohnya syirik lho..”

Lalu seorang peserta mentoring mendebat, “Kan bener bang, saat Adam kesepian di surga, Allah menciptakan Hawa untuk nemenin Adam.”

Kemudian sang mentor menjawab, “Apakah setelah Adam meninggal, Hawa ikut meninggal? Kan masa tugasnya sudah berakhir”. Begitu jawab si mentor.

Well, memang apa yang dikatakan mentor itu ada benarnya. Bahwa banyak lirik lagu yang tidak layak diucapkan karena bisa-bisa menyeret kita pada kesyirikan dan kekufuran. Sering ada lirik begini pada lagu metal (mellow total), “Aku tak bisa hidup tanpamu”. Coba pikir dengan akal sehat! Selain terlalu cengeng dan gak banget, syair seperti ini jelas mengesampingkan kekuasaan Allah swt. Allah yang menghidupkan dan mematikan. Juga syair “Kau lah segalanya bagiku”, di mana letak ikatan antara seorang muslim dengan Allah swt, bila keberadaan Dzat Yang Memberi Nikmat dipinggirkan oleh manusia yang dianggap segala-galanya. Naudzubillahi min dzalik.

Memang ada yang bakal menyanggah, “Ah.. itu kan cuma lagu. Seni.” Iya, tapi apakah sebuah seni tidak punya batasan? Apakah kita boleh bernyanyi semau kita hingga menghina Allah swt?

Lirik lagu Bruno Mars, yang berjudul “It Will Rain” yang baru-baru ini ngehits, juga mengandung lirik yang serem.

There’s no religion that could save me.
No matter how long my knees are on the floor

Terasa gak, dengan menyanyikan lagu itu, kita mendeklarasikan diri kita menjadi seorang atheis atau agnostic, atau apalah? Padahal kalau kita ngaji, jelas sekali Islam lah agama yang menyelamatkan kita dunia dan akhirat. Pantas kah kita menyanyikan lagu ini sementara setiap detik kita dilimpahkan nikmat oleh Allah swt? Kemana rasa sopan kita kepada Tuhan?

Ada lagi… Rasulullah saw telah bersabda, “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah sungguh telah musyrik. [HR Tirmidzi]. Pada hadits lain, “Setiap sumpah yang diucapkan tidak dengan nama Allah, termasuk perbuatan syirik.’” (HR Hakim). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab Fat-hul Baari (XI/531), “Sabda Nabi, ‘Maka ia telah kafir atau berbuat syirik,’ tujuannya adalah penegasan dan penekanan larangan. Hal ini telah dijadikan sandaran oleh para ulama yang mengharamkannya.”

Lalu coba rekan muda nilai lirik lagu yang dinyanyikan Rosa yang berbunyi: “…Kubersumpah atas nama cinta…” Jelas sekali tersirat bahwa si pencipta lirik bersumpah tidak dengan nama Allah, tapi atas nama cinta. Maunya sih indah… Tapi apa iya aturan agama bisa dikesampingkan demi terciptanya keindahan? Apa iya kita rela menyanyikan lagu yang punya konsekuensi yang sangat berat, bisa sampai pada kemusyrikan.

Karena hidup ini tidak ada sedetik pun tanpa nikmat Tuhan, maka tidak selayaknya kita tidak peduli atas ridho Tuhan sedetik pun. Termasuk saat bernyanyi, jangan memancing-mancing perbuatan yang Allah tidak ridhoi.

Terakhir, ada ayat yang bisa kita renungkan bersama. Ayat-ayat yang ada pada akhir surat Asy-Syu’ara. Bercerita tentang penyair yang menjadi teman syetan karena syair-syairnya yang menjerumuskan manusia pada kesesatan, kedustaan, dan hal-hal yang tidak diridhoi Allah.

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaithan-syaithan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah,  dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan (nya)?, Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut nama Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”(QS Asy-Syu’ara 221-227)

Leave a comment

Manajemen Ghiroh

Gelar ABG (Anak Baru Gede) biasanya diberikan pada anak yang baru memasuki masa remajanya. Dinamai baru gede karena mereka memasuki masa transisi antara dewasa dan anak-anak, di mana mereka sudah mulai dipercaya menjaga diri sendiri dan tidak dianggap menjadi anak-anak lagi.

Tingkah mereka ini kadang menggelikan dan kadang menjijikkan. Ketika mereka senyam-senyum sendiri karena mendapatkan cinta pertama mereka, mereka terlihat lucu dan menggemaskan. Ketika mereka kalang-kabut ketika mendapat jerawat pertama, mereka terlihat lucu, kasihan, dan menjijikkan apabila kita melihat jerawatnya. Ketika mereka mulai berani pulang malam, pergi ke bioskop, tak mau mendengarkan omongan orang lain, sok gede, dan… sudahlah, ntar penulis disangka curhat lagi…

Siswa yang baru masuk SMU biasanya adalah orang-orang yang berpredikat ABG ini. Gaya mereka terlihat canggung memakai seragam putih-abu-abu. Dan supaya mereka nggak sok gede, dan tahu diri bahwa mereka masih baru dan masih cilik, diadakanlah perploncoan oleh kakak kelasnya.

Keluarga Baru di SMU ini pun – atas rahmat Allah – ada yang mengikuti kegiatan Rohani Islam, ekskul di sekolahnya. Di sini mereka dibina sehingga mereka menjadi ABG.

ABG binaan Rohis ini berbeda dengan ABG anak baru gede. ABG binaan Rohis ini singkatannya ialah Anak Baru Ghiroh. Salah satu arti ghiroh dalam bahasa Arab ialah semangat. Anak Baru Ghiroh artinya anak yang baru mendapatkan ghirohnya dalam hal keislaman.

Tingkahnya tidak kalah menggelikan, tapi tidak menjijikkan insya Allah. Kita akan menjumpai anak yang tadinya doyan sinetron tiba-tiba berteriak “ghozwul fikri tuh, jangan nonton gituan.”, ketika melihat adiknya atau kakaknya menonton sinetron. Atau membentak, “Lu dari tadi gonjrang-gonjreng mlulu. Ngaji dong. Kayak orang kafir aja luh,” kepada adiknya yang sedang main gitar. Dan menunjuk play station sambil berkata, “ini thoghut tau!” Membuat satu rumah bengong melihat tingkahnya.

Memang kalau kita sebagai pembinanya, lalu melihat perubahan terhadap “ABG” kita bertingkah seperti itu, kelihatannya didikan kita berhasil. Kita bangga padanya. Namun tidak untuk keluarganya.

Tentu saja akan terjadi kejutan pada keluarganya yang bisa-bisa menjadi fitnah bagi si anak. Kasihan, bisa-bisa si anak dituduh ikut aliran macem-macem. Dan kita yang membinanya juga bisa dituduh mengajarkan aliran sesat. Orang tuanya tak kan melihat bagaimana kemajuan ibadah si anak, itu sih asyik-asyik aja bagi mereka. Tapi tudingan-tudiangan si anak yang membuat panas telinga mereka itulah yang akan mereka tanggapi.

Memanajemen ghiroh menjadi penting pada saat-saat seperti ini. Pengendalian semangat dan api kecemburuan terhadap maksiat berguna agar dakwah kita menjadi lancar. (Ghiroh juga berarti cemburu)

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memanajemen ghiroh:

1. Bersyukur kepada Allah.

Ghiroh yang kita dapatkan ini adalah semata-mata dari Allah. Itulah yang harus kita perhatikan dan kita tanamkan dalam diri kita. Hal ini agar dalam setiap hal perbuatan kita, kita selalu mengingat kebaikan Allah atas kita.

Di mobil, sepulang dari pengajian, ingatlah kebaikan Allah pada kita dalam bentuk ghiroh baru ini. Maka tak terasa air mata mengalir membelah senyuman kesyukuran. Syukur membuat nikmat kita bertambah. Maka dengan mensyukuri ghiroh ini, akan menjaga ghiroh kita agar tetap awet muda. Tak lapuk karena hujan dan tak lekang karena panas.

Rasa syukur ini harusnya memicu kesadaran bahwa semua perubahan pada diri kita berasal dari Allah swt. Dan kesadaran ini harus mencegah kita dari rasa sombong dan ujub, sehingga merendahkan orang lain yang belum tersentuh hidayah.

2. Upayakan sekeras mungkin untuk melakukan penahapan dalam peningkatan amal.

Wuaaah… gejolak semangat yang begitu besar ini membuat kita menggebu-gebu untuk bangun malam, shoum senin-kamis (bahkan tak jarang sampai daud), tilawah setengah juz, dll. Yang tadinya pas-pasan dalam amalan, sekarang membludak kaya akan amalan.

Bukannya buruk, hanya saja Rasulullah pernah menyindir seorang sahabat yang tidak konsisten dengan amalnya. Di suatu malam banyak beribadah, tapi malam berikutnya minim ibadah.

Bisa saja kita sehari dua hari mampu tilawah sampai setengah juz. Tapi pada hari ketiga keempat, karena kesibukan, kita tidak tilawah sama sekali. Atau tilawahnya mundur jadi setengah halaman doang. Bukankah kemunduran itu adalah kerugian? Bahkan termasuk kategori kerugian apabila hari ini sama dengan kemarin.

Upayakan, sekalipun gelora semangat ini begitu besar, melakukan penahapan dalam peningkatan amalan. Selama ini tilawah kalau kepengen saja, eh tiba-tiba selama dua hari tilawahnya setengah juz. Bisa-bisa besok kita jengah dengan tilawah. Suatu hal yang buruk.

3. Ingat akan masa futur atau masa jemu.

Iman itu ada masa naik dan masa turun. Mungkin kita bingung, bagaimana keimanan itu turun?

Begitulah. Ada masa-masa di mana kita mulai bosan dengan ibadah yang kita lakukan. Ada kala di mana kita rindu akan linkin park yang baru kemarin kita caci maki karena telah melalaikan kita selama ini. Itu tak terelakkan karena sudah menjadi fitrah manusia.

Sering simpati manusia beralih menjadi benci kepada seseorang yang tadinya terlihat begitu takwa di hadapan manusia, namun ketika di masa futur, ia terlihat sangat berlawanan. Seorang ABG selalu dibayang-bayangi perkataan, “ah, lu cuma bisa ngomong doang,” dari orang banyak yang akan ditemuinya di kala futur. Berhati-hatilah, karena bisa-bisa kita dibenci oleh orang-orang yang selama ini kita beri teguran. Yang baik bukannya kita tidak beramar ma’ruf nahi munkar, tetapi ketika futur, apa yang kita ucapkan tetaplah harus kita laksanakan sekuat mungkin.

Perintah Rasulullah kepada kita untuk menjaga lima kondisi sebelum lima kondisi, sebenarnya juga berlaku untuk berbagai kondisi yang memiliki kondisi kebalikannya. Masa kenaikan iman juga harus dijaga sebelum masa penurunan iman. Dalam hal ini, poin nomor 2, atau penahapan dalam beramal, adalah aktualisasi penjagaannya.

Ingatlah wahai rekan muda yang termasuk ABG, masa futur suatu saat tak akan kalian elakkan. Dan berhati-hatilah terhadap masa ini.

4. Syamil (menyeluruh) dalam menyalurkan ghiroh.

Tidak adil kalau kita hanya menyalurkan semangat sebatas pada kebencian kita dengan Zionis, dengan Ghozwul Fikri, dengan sinetron, film, de el el. Juga sebatas penambahan frekuensi sholat, merajinkan shoum, mati-matian tilawah, dan amalan-amalan hablumminallah.

Semangat kita pada Islam juga harus kita salurkan pada amalan-amalan yang bersifat hablumminannas (hubungan pada manusia). Misalnya berbuat baik pada orang tua, berhusnuzhon (baik sangka) dan menjauhkan diri dari su’udzhon (buruk sangka), membantu sesama muslim, memberi salam, dll.

Semangat lahir bersamaan dengan kecintaan kita yang bertambah pada Allah swt. Maka sebagai bukti kecintaan kita, tidak cukup dengan ibadah mahdoh saja, juga harus ditambah dengan ibadah yang berhubungan dengan manusia.

5. Selalu jaga sikap Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang lahir dari ghiroh baru itu sungguh sangat positif. Sebenarnya inilah hal yang paling baik yang didapat dari adanya ghiroh, karena bisa membuat sang anak menjadi manusia terbaik (3:104).

Amar Ma’ruf Nahi Munkar ini haruslah seimbang. Kadang-kadang ada ABG yang doyang mencela ini itu. Memang itu termasuk Nahi Munkar. Tapi jangan sampai ia tidak melakukan Amar Ma’ruf. Adik yang demen Westlife dimarahin, tapi ketika adzan berkumandang, cuek saja dengan adik yang melalaikan sholat.

Sikap amar ma’ruf nahi munkar ini harus selalu dilestarikan. Dan sekali lagi, hati-hati ketika tiba saat futur. Karena biasanya di saat itu kita tidak melaksanakan apa yang kita umbar selama ini. Sekali lagi hal ini bisa mengundang kebencian orang. Saat futur adalah saat bermujahadah untuk melaksanakan apa yang kita ucapkan.

1 Comment

Zodiak Hari Ini

Masih percaya ramalan bintang? Hari gini? Memang, rubrik ramalan bintang di majalah tak pernah sepi pembaca. Ada yang beralasan untuk iseng dan having fun. Tapi ada juga yang serius mempercayainya. Waduh…

Soal keharaman mempercayai ramalan, sudah sangat jelas dalam Islam. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” Jadi, kalau yang punya niat membaca ramalan karena having fun, masak bersenang-senang dengan sesuatu yang dibenci Allah?

Secara logika, ramalan bintang ini bisa dibuktikan kok ngawurnya. Kumpulkan beberapa majalah yang memuat rubrik zodiak dalam bulan yang sama, kemudian lihat apa isi zodiaknya? Majalah yang satu mungkin akan mengabarkan bahwa pemilik bintang Sagitarius akan mengalami nasib yang kurang baik, tapi majalah yang lain malah mengabarkan hal sebaliknya. Berarti, sangat besar kemungkinan bahwa artikel ramalan bintang itu cuma karangan belaka. Untuk apa dipercaya. Tapi bisa jadi juga artikel itu dibuat oleh dukun beneran sehingga kita terancam dihukum tidak diterima sholatnya selama 40 hari. (Jangan bilang mending gak sholat aja, itu malah lebih parah :p)

Nah, bagaimana kalau kita buat sendiri zodiak kita. Ya, buat sendiri. Tidak perlu pakai bantuan jin!! Kita buat dengan improvisasi mengajak kebaikan. Yuk, contoh seperti yang muslimmuda buat.

CAPRICORN

Keuangan : Mulai sekarang, biasakanlah bersedekah! Karena pada saat yang sulit, sedekah kamu akan membawa manfaat untuk kamu.

Kesehatan : Ciee yang rajin futsal. Bagus!! Jaga badanmu tetap bugar!

Asmara : Mencari cinta sejati? Cinta Allah yang paling sejati. Buktikan sendiri!!

AQUARIUS

Keuangan : Jangan terlalu membebankan orang tua kamu. Kamu harus belajar menabung dan berhemat.

Kesehatan : Lagi sehat? Alhamdulillah yah, itu sesuatu banget buat kamu. Coba kamu kunjungi temanmu yang sakit agar kamu merasakan nikmat sehat dan mau bersyukur kepada Allah swt.

Asmara : Kerasa gak sayangnya orang tua sama kamu? Memang, sayang ortu sepanjang jalan, sayang anak sepanjang galah. Tapi galah itu sangat berarti buat mereka. Tunjukkan sayangmu!!

PISCES

Keuangan : Wah lagi banyak duit nih. Buku yang bermanfaat bisa jadi barang belanjaan yang cermat buat kamu.

Kesehatan : Ooop.. Tahan… Jangan sering-sering makan junkfood dan softdrink. Muslim muda yang sehat harus mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi.

Asmara : Agak heran dengan kata “Mencintai karena Allah”? Hmm… coba ikut pengajian Rohis, dan tanya kakak pembina kamu tentang Mencintai karena Allah. Kamu akan dapat jawaban yang memuaskan, insya Allah.

ARIES

Keuangan : Saat-saat sulit, kemana lagi tempat mengadu dan memohon pertolongan selain kepada Allah swt?

Kesehatan : Cuma sariawan mah bukan penghalang untuk datang ke pengajian dong… Ayo ikut pengajian, sambil memohon kesembuhan kepada Allah swt. Makanya jangan suka gigitin bibir kalo gemes.

Asmara : Mencintai amalan tertentu? Bagus kok… Kamu tidak dituntut untuk melakukan semua ibadah dengan rata. Satu amalan tercinta yang rutin kamu lakukan akan membawa kamu kepada cinta Allah swt. Insya Allah.

TAURUS

Keuangan : Hehe… Salut deh..!! Kamu sudah mulai belajar untuk mencari uang dengan jalan yang halal. Ayo jadi muslim muda yang punya kemandirian!!

Kesehatan : Tidak merokok itu positif. Berupaya berhenti merokok itu berarti kamu berjalan ke arah yang positif. Coba menghindar juga kalau teman-teman mulai menghidupkan rokoknya. Perokok pasif lebih berbahaya lho.

Asmara : Aduuuh kok sama saudara sendiri gak akur sih… Coba gali perasaan di antara kalian. Akan ada banyak kasih sayang lho… Gak perlu cemburuan gitu ah.

GEMINI

Keuangan : Biar aja lah orang lain gaya-gayaan. Kamu gak perlu ikutan. Jangan silau lihat kekayaan orang lain. Yuk belajar zuhud!!

Kesehatan : Multivitamin? Ada bagusnya. Tapi coba konsultasikan dengan saudara atau teman yang mengerti dunia medis. Supaya kamu lebih tepat memilih jenis vitamin.

Asmara : Dia cantik? Oke. Tapi siapa yang membuat dia cantik? Allah swt, bukan? Cintai Allah saja kalau begitu.

CANCER

Keuangan : Memberi hutang kepada teman, itu mulia karena membantu orang lain. Tapi kalau kamu sempurnakan menjadi sedekah, lebih baik lagi lho…

Kesehatan : Dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Apalagi kalau jiwa itu rajin beribadah. Yuk bersyukur pada Allah.

Asmara : Dia cerdas? Hebat dong. Tapi siapa yang menganugerahkan kecerdasan kepada dia? Allah swt, bukan? Cintai Allah saja kalau begitu.

LEO

Keuangan : Menabung di bank Syariah lebih halal dan adil. Jangan terpengaruh iklan yang mengiming-imingi hadiah. Kecil kemungkinan dapetnya. Lebih baik di bank syariah saja.

Kesehatan : “Berpuasalah maka kamu akan sehat”. Begitu kata Rasulullah. Yuk rutinkan shoum sunnah.

Asmara : Dia baik dan sholehah? Mantap. Tapi siapa yang memberinya taufik agar bisa baik dan sholehah? Allah swt bukan? Cintai Allah saja…

VIRGO

Keuangan : Berhutang itu wajar, sebagai manusia kita kadang punya keperluan saat daya kita te rbatas. Cuma, jangan dijadikan habbit. Berhutanglah untuk hal yang mendesak atau yang produktif.

Kesehatan : Bangun sholat subuh itu sehat lho. Apalagi kalau tahajud sebelumnya. Supaya bisa tahajud. jangan tidur terlalu larut. Oke..??!!

Asmara : Berjilbab itu bukan penghalang jodoh. Ngawur kalau ada yang berfikiran jilbab itu menghambat jodoh. Banyak kok jilbaber yang sudah menikah. Banyak sekali.

LIBRA

Keuangan : Gak perlu pamer. Harta itu titipan dari Allah swt. Kelak kamu akan diminta pertanggung jawabannya. Pergunakanlah ia untuk kebaikan.

Kesehatan : Hobi bola sih hobi bola. Tapi kalau ada beberapa pertandingan dalam satu malam, tidak perlu ditonton semua. Apalagi kalau besoknya sekolah. Stamina kamu bisa drop lho kalau kebanyakan begadang. Tanya deh Bang Haji Oma Irama.

Asmara : Jangan terlalu banyak nonton sinetron atau film Korea. Jalan cerita cinta orang-orang itu terlalu dibuat-buat. Serahkan saja hidupmu pada Allah. Tidak perlu mengkhayal jadi putri yang tertukar.

SCORPIO

Keuangan : Ada ide bagus. Sisa uang jajan kamu kalau dipakai buat memberi hadiah untuk orang tua, atau mentraktir mereka makan, akan sangat membuat mereka terharu. Mau coba?

Kesehatan : Bercita-cita jadi dokter? Bagus… Wujudkan dengan jalan pertama yaitu mengenali tubuhmu sendiri. Jaga kesehatan!!

Asmara : Merindukan istri yang sholehah? Sholeh kan dulu diri kamu!! :)

SAGITARIUS

Keuangan : Sesekali ke rental PS atau ke warnet game online memang sah-sah saja. Tapi kontrol diri. Jangan sampai menjadi mubadzir, karena tabzir itu pekerjaan Syetan.

Kesehatan : Aduuh… catur memang dikategorikan olahraga. Tapi kamu perlu banyak gerak, tong… Supaya kamu lebih bugar. Ayoo…

Asmara : Mulai menyusun kriteria nih? Hehe… boleh-boleh saja. Tapi jangan sampe muluk-muluk ya…

* Catatan, satu zodiak berlaku untuk semua orang tanpa terkecuali. Karena isinya adalah mengajak kebaikan. Dan zodiak ini bukanlah ramalan, tapi anjuran. Bukan ramalan bintang, lebih tepatnya, anjuran bintang. Hehe…

1 Comment

Agar Tak Mudah Menggalau

Belakangan ini Rino sering murung tak tentu. Kondisinya yang sering terlihat galau itu cukup menggalaukan teman-teman dan orang tuanya. Karakternya yang periang belakangan ini menghilang. Di kelas, candaannya sudah jarang terdengar. Dari sudut ruangan kelas, posisi Rino duduk, hanya terlihat muka murung, diam, suram, jerawatan dan pas-pasan milik Rino. Sekalinya Rino bersuara, terdengar lantunan kalimat puitis yang nggak banget.

Suatu saat guru Matematika memberikan soal tentang integral yang agak rumit. Pak guru menantang adakah yang bisa maju ke depan untuk menjawab soal di papan tulis. Semua hening. Lalu Pak Guru bertanya, “Kenapa pada diam? Memangnya susah ya? Ayo coba, jangan diam aja.” Tiba-tiba Rino yang sedari tadi diam, membuka mulutnya. “Pecahkan saja gelasnya. Biar ramai. Biar mengaduh sampai gaduh,” ujarnya. Sontak saja semua terbahak. Galaunya agak mengkhawatirkan memang.

Selidik punya selidik, rupanya ada beberapa sebab Rino suka menggalau. Pertama, Rino tiba-tiba jatuh cinta dengan anak baru jurusan IPS. Anak pindahan dari desa. Tapi justru itu yang Rino suka. Karena Rino ngefans sama Bang Roma Irama, anak gadis dari desa itu mengingatkan Rino pada film Bunga Desa. Yah… Di Kartu Pelajar, usia Rino memang masih 17 tahun. Tapi pengetahuannya tentang film jadul rasanya membuat kita ragu dengan umur Rino sebenarnya.

Selain itu, ada kekhawatiran berlebih pada Rino kalau ia gagal masuk jurusan favoritnya di SNMPTN. Memang sekarang baru awal tahun ajaran dan masih beberapa bulan lagi SNMPTN, tapi Rino sudah mengkhawatirkan masa depannya. Setelah beberapa kali ikut try out, hasilnya ia gagal tembus jurusan Teknik Arsitektur UI. Ekstrimnya, ia hanya ingin jurusan itu. Bahkan ia tak berminat dengan pilihan kedua.

Ada lagi, Rino menjadi semakin galau karena tim kesayangannya, Argentina, gagal di Piala Copa America. Bagi sebagian orang yang tidak hobi sepakbola, mungkin kegalauan Rino dianggap gak penting. Tapi ya begitulah yang terjadi pada seorang fans berat Argentina.

Penting gak penting, galau itu memang bisa sering terjadi pada manusia, apalagi remaja. Karena itu, agar tidak menjadi remaja yang rentan galau, ada beberapa tips yang bisa diikuti.

1. Kenali Tujuan Hidupmu

Bila seseorang tidak mengenali tujuan hidupnya, maka ia rawan labil. Ia terombang-ambing dari suatu keadaan ke keadaan lain. Sedikit keadaan yang tidak menyenangkan, bisa didramatisir sedimikian rupa sehingga menghasilkan galau yang hebat.

Orang yang mengerti tujuan hidupnya, ia bisa saja galau, tetapi pada hal-hal yang menyangkut tujuan hidupnya. Seorang muslim yang menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya, maka kegalauannya ada pada saat ia berbuat dosa. Ia menyesal dan galau saat berbuat dosa karena dosa itu bisa menghalanginya mendapat Ridho Allah. Sedangkan bila musibah dunia menghampirinya, misalnya ia mendapat nilai ujian yang kecil, tidak menjadikannya galau berlebih karena nilai ujian yang kecil itu tidak menghalanginya mendapat ridho Allah. Ia tinggal berupaya agar ujian selanjutnya nilainya menjadi lebih baik; tanpa rasa cemas, sedih, atau murung berlebihan.

Begitu juga pada Rino, apabila ia mengenal tujuan hidupnya sebagai ciptaan Allah swt, ia tidak perlu uring-uringan karena Argentina gagal di Copa America. Olahraga hanya sekedar hiburan. Olahraga itu seharusnya menyehatkan. Tapi menjadi fans buta, membuat Rino seperti tak mengenal apa yang harusnya diperbuat untuk mencapai tujuan hidupnya.

Prinsipnya, “Musibah dunia ini tidak ada apa-apanya dibanding musibah akhirat.” Begitu.

Pernah mendengar istilah MYOB (Mind Your Own Bussiness)? Artinya, kita disuruh fokus pada urusan kita saja. Tidak perlu mengurusi masalah-masalah lain yang tak berhubungan dengan kita. Pada dasarnya dalam pergalauan eh… pergaulan, kita dituntut untuk bersikap yang seimbang antara care dengan rese’. Kita memang perlu perhatian dengan sekeliling kita, tapi pada batas yang normal saja. Jangan sampai perhatian itu kebablasan sehingga menimbulkan kesan rese’. Nah, perhatian yang kebablasan ini juga bisa menimbulkan galau yang gak jelas. Yang putus cinta teman sekelas, eh.. yang galau berabad-abad malah kita. Kan gak banget. Karena itulah, mengenal tujuan hidup bisa membuat kita terhindar dari galau-galau yang gak penting.

2. Ridho Atas Kehendak Tuhan.

Kadang ekspresi kegalauan itu mencerminkan sikap kita yang tidak sopan kepada Tuhan. Tidak sopan di sini maksudnya kita tidak ridho atas kehendak Allah swt. Bila ada remaja yang setiap selesai bercermin timbul kegalauan, maka kemungkinan remaja itu tidak ridho dengan tampang yang diberikan oleh Allah swt. Akan sampai kapan kita terus-terusan tidak ridho dan menggalau atas kehendak Allah? Akan sampai kapan kita pelihara prasangka bahwa Allah tega memberikan keburukan pada kita? Maha Suci Allah dari sifat zholim.

Seorang mukmin, akan terhindar dari rasa galau karena sesuatu yang menimpa dirinya. Simak sabda berikut: “Amat mengherankan terhadap urusan mukmin, semuanya, hal itu tidak terdapat kecuali pada mukmin, bila ditimpa musibah ia sabar, dan bila diberi nikmat ia bersyukur.” (Hadits riwayat Muslim).

Sederhananya, hidup ini ada di antara dua penyikapan: sabar dan syukur. Orang yang mampu bersikap sabar pada keadaan yang tidak mengenakkan, akan terhindar dari sikap mudah galau. Tidak perlu galau kalau KRL mogok. Tidak perlu galau kalau terjebak macet. Bersabarlah. Orang sabar hidungnya lebar.. eh…

3. Kenali Potensi Diri, Tumbuhkan Percaya Diri

Galau hati juga bisa timbul dari rasa rendah diri. Seperti Rino yang gagal terus-terusan saat mengikuti try out, ia jadi menggalau. Sayang, kalau energi galaunya ia salurkan untuk belajar tanpa kenal menyerah, kemungkinan besar ia akan meraih cita-citanya. Tapi rasa rendah dirinya membuat ia memilih galau dari pada pantang menyerah.

Kenali potensi dirimu. Mengenali potensi diri bisa membantumu mengukur target yang tepat untuk dirimu. Dalam kasus Rino, anggaplah Rino memang gagal terus. Tapi ia bisa cari universitas mana yang cocok dengan nilainya. Kalau over confident, kita bisa berlebihan membentuk keinginan. Keinginan yang melewati batas potensi diri ini bisa mengakibatkan kita menghadapi kegagalan dan berujung pada kegalauan.

Begitulah beberapa tips untuk menghindari rasa galau. Jangan gampang galau yah..!! ;)

2 Comments

Ingin Menjadi Tahajudista

Empat orang berkumpul dalam satu meja di sebuah rumah makan di suatu siang. Semuanya laki-laki. Maka layaknya laki-laki, pembicaraan tak jauh-jauh dari soal dunia sepakbola. Tentang kompetisi yang sedang bergulir, bursa transfer, pemain favorit, strategi, dan lainnya.

“Akhir pekan ini Liverpool lawan siapa Ded?” Tanya salah seorang dari mereka, bernama Aman.

“Aston Villa. Maennya jam 11 malem hari sabtu. Kalo jam 9 nya MU. Coba Liverpool yang jam 9. Jam 11 malem itu tanggung mau tidur dulu. Jadi harus begadang.” Jawab Dedi, yang ditanyai oleh Aman.

“Terus lu ga nonton?” Andri menimpali.

“Enak aja.. Nonton dong. Gw kan Liverpuldian sejati. Lah lu, Madrid kan maen jam 3 pagi. Lu mau nonton?” Dedi balik bertanya kepada Andri.

“Harus dan kudu. Percuma jadi Madridista kalo nyerah sama jam 3 pagi.” Jawab Andri.

“Wah.. Jam 3 ya? Jam 2 nya Milan tuh..” Kata Aman.

“Nonton mana lu?” Tanya Dedi.

“Milan dong. Gw kan Milanisti, bukan Madridista.”

Kemudian tiga orang itu serempak melihat pada Urwah yang sejak tadi diam.

“Urwah, lu gak ada tim kesayangan?” Tanya Andri.

“Waa.. Gw pengennya jadi Tahajudista.” Jawab Urwah.

“Nama fans klub apaan tuh?” Tanya yang lain serempak.

“Itu bukan klub. Tapi julukan bagi orang yang doyan bangun malam-malam buat Tahajud. Kalo kalian kan bangun malam-malam untuk nonton bola.” Terang Urwah.

“Yaa… Tahajud mah bisa diseling, kalii… Kalo lagi istirahat kan ada waktu yang cukup buat tahajud.” Kata Andri.

“Lima belas menit yah? Wah… Bagi tahajudista, agak kurang itu bro. Tahajudista kalo lagi bangun malem agendanya banyak. Selain tahajud, juga tilawah baca Qur’an. Satu rokaat saja kadang lama, karena sambil murojaah, mengulang hafalan Qur’an. Selain itu tahajudista juga introspeksi bermuhasabah. Kalau menyadari ada dosa siang tadi, tahajudista akan banyak-banyak beristighfar.

Seorang tahajudista juga punya banyak kebutuhan pada Allah. Makanya doanya sering panjang. Mumpung sepertiga akhir malam, saat yang mustajab untuk berdoa.

Ya mungkin kadang tahajudista juga butuh istirahat saat tengah beraktifitas malam, nah baru saat itu tahajudista nonton bola. Tapi gak lama-lama.”

Yang lain terdiam mendengarkan sambil menikmati makan siangnya. Ada juga yang manggut-manggut.

“Tapi walau pun cuma lima belas menit menunggu babak kedua dimulai, Milanisti, Liverpuldian, Madridista, juga bisa kok jadi tahajudista. Asal lima belas menit itu sungguh-sungguh dipakai bermunajat kepada Allah. Daripada tidak sama sekali?” Lanjut Urwah.

“Betul Urwah. Sambil doain tim kesayangan biar menang.” Jawab Dedi yang disusul tawa oleh yang lain.

4 Comments

Ceng-ceng-an…

Salah satu bumbu dalam pergaulan adalah kebiasaan mengejek, mengolok-olok, merendahkan, atau dalam bahasa gaul disebut ‘nge-ceng-in orang’. Kok disebut ‘bumbu dalam pergaulan’? Seharusnya disebut ‘bug dalam pergaulan’ ya?

Yah, diakui bahwa ejekan sendiri bisa jadi sebagai pemanis dalam pergaulan. Asal jangan ada yang tersinggung. Saling mengejek menjadi bumbu dalam pergaulan kalau memang dimaksudkan sebagai bahan candaan. Tapi bagaimanapun juga, tetap mempunyai kemungkinan untuk menumbuhkan perasaan sakit dalam hati. Ya, liat liat dulu lah ceng-cengannya gimana… :)

Kalau sifat air itu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, sifat angin bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan yang rendah, maka sifat cemoohan juga begitu, dari orang yang punya kelebihan kepada orang yang punya kelemahan.

Logikanya harusnya seperti itu, kan? Orang yang langsing akan mengejek orang yang gendut, orang yang lancar bicaranya akan mengejek orang yang gagap, orang yang ganteng akan mengejek orang yang jelek, dst. Bahan ejekan, tentu yang dianggap kekurangan pada objek yang diejek.

Lalu, mengapa Allah SWT SWT mengatakan bahwa bisa jadi yang diejek lebih baik dari yang mengejek?

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik…” Qs Al-Hujuraat:11.

Jadi, bisa terjadi salah sasaran, begitu ya? Memang bisa begitu!!!

Secara sadar/tidak sadar, kadang penonton sepak bola sering mengejek pemain. Kata-kata “halaah… Rooney… dasar gendut, gak bisa lari…”, atau ‘huh… Materazzi, udah tua… bikin blunder mlulu…”. Kalau yang melontarkan itu Pele sih, mungkin bisa diperbandingkan. Lah, kalau yang menonton itu orang biasa, ya terjadi lah seperti yang Allah katakan, yang direndahkan lebih baik dari yang merendahkan.

Memang hal yang spesifik yang diejek, tapi dari hal yang spesifik itu sendiri rupanya yang diejek itu malah jauh lebih baik dari yang mengejek.

‘//———————————————-//’

Manusia punya kelebihan dan kekurangan sekaligus. Tidak ada manusia yang sempurna. Bisa saja seseorang punya kelebihan berupa kecerdasan, tapi fisiknya tidak begitu baik. Atau sebaliknya.

Kecerdasan pun bermacam-macam. Misalnya di SMU ada anak yang jago matematika, tapi lemah di pelajaran ekonomi, sehingga masuk jurusan IPA. Atau ada yang jago logika, tapi hafalannya lemah. Ada yang IQ-nya tinggi tapi EQ-nya lemah, atau sebaliknya. Ada yang jago programming tapi buta networking, atau sebaliknya.

Intinya, kelebihan manusia itu spesifik!

Jadi, seharusnya tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi satu sama lain. Karena masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Begitu? Memahami firman Allah SWT di atas, mengapa Allah SWT – secara general – seolah-olah membagi manusia ada yang lebih baik dari yang lain?

Allah SWT. punya pandangan subjektif sendiri terhadap seseorang. Hadits ke-8 bab “Ikhlas dan Niat Dalam Segala Perilaku Kehidupan” buku ‘Riyadush-Sholihin’ karangan Imam Nawawi berbunyi,

“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian, tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada hati kalian.” (HR Muslim).

Juga pada surat Al-Hujuraat ayat 13, “…Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu…”

Dan ada beberapa dalil naqli lain yang menyiratkan hal serupa. Allah mengukur dari hati dan ketaqwaan seseorang. Allah punya timbangan sendiri sehingga Ia menilai mana yang lebih baik dari yang lain.

Ada sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana keimanan dan ketaqwaan mampu menutupi kelemahan spesifik seseorang. Ketika Ibnu Mas’ud sedang memanjat pohon, tersingkaplah betisnya. Seorang sahabat menertawakan betisnya yang kecil. Lalu Rasulullah berkata bahwa betis Ibnu Mas’ud yang kecil itu memiliki bobot yang lebih besar dari gunung Uhud. Sontak sahabat yang menertawakan tersebut menyatakan penyesalannya.

Abdullah bin Mas’ud adalah seseorang sahabat yang ‘Pakar Qur’an/tafsir’ di zamannya, zaman Rasulullah dan sahabat!!!

‘//————————————————–//’

Suatu hari saat saya sedang berada di suatu perkumpulan. Saat itu saya menyindir anggota dewan yang meminta fasilitas laptop. Seorang ustadz yang berada di situ mengingatkan saya tentang Al-Hujurat ayat 11 ini. Saya jadi malu saat itu.

Saat itu, kalau dibilang saya mengkritik anggota dewan, kok nggak di hadapannya langsung? Jadinya, ya mengejek atau ghibah. Allahummaghfirlanaa wa lahum.

Pernah Bilal r.a dipanggil dengan sebutan ‘hai hitam!’. Bilal memang seorang sahabat mantan budak yang berkulit hitam. Mendengar panggilan seperti itu, Rasulullah berkata kepada sahabat yang memanggil Bilal dengan sebutan seperti itu, “Engkau masih memiliki prilaku jahiliyah!”.

Yah… selamat bergaul, hati-hati dalam ceng-ceng-an ;)

8 Comments

Ikatan Abadi

Tulisan ini sudah pernah saya post di beberapa tempat di internet. Pertama kali dimuat di majalah Sabili No 26 Th VIII 20 Juni 2001/28 Rabiul Awal 1422. Tapi saya yakin masih banyak yang belum membacanya. Semoga tidak basi. :)

Persaudaraan. Kata tersebut terasa indah didengar. Bila diucapkan, yang terbayang di benak kita adalah keakraban, kedamaian, kasih sayang, persatuan, cinta dan banyak lagi kata manis lainnya.

Untaian kata itu terasa manis lantaran fitrah manusia memang cenderung kepada hal-hal tersebut. Sejak kanak-kanak, Allah memperkenalkan kepada manusia indahnya kekompakan yang dipaket dalam bentuk permainan secara kolektif dengan anak-anak lain. Saat itu kita tertawa bersama, bekerja bersama, dan kadang dibumbui dengan sedikit perselisihan yang justru makin memaniskan persaudaraan. Hati bersih kanak-kanak kita merekam semua keindahan tersebut. Tak ada kedengkian dan dendam. Yang ada hanyalah maaf dan senda gurau yang menghapus segala permusuhan sebelumnya.

Kini, kekerasan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Akibatnya mereka tumbuh menjadi bangsa yang lemah-lunglai didera kehidupan yang makin keras. Kasih sayang adalah barang langka. Tangan-tangan suci telah berlumuran darah. Nurani kita kembali menggugat, merindukan keindahan rasa persaudaraan itu.

Seindah-indahnya persaudaraan adalah puncaknya yang tak tertandingi. Itulah ukhuwah islamiyah. Ia dipautkan dengan ikatan abadi yang berlandaskan aqidah. Adapun bentuk persaudaraan yang lain hanya dilandasi ikatan suku, kekeluargaan, nasionalisme, materi dan berbagai ikatan non akidah lainnya yang fana. Ikatan kekeluargaan biasanya hilang saat terjadi perebutan harta warisan. Ikatan materi pupus saat masing-masing komponen memperoleh tujuan yang diinginkannya. Ikatan suku hilang saat terjadi perkawinan atau adanya asimilasi antar suku. Nasionalisme akan lenyap ditelan globalisasi dan arus informasi. Namun ikatan aqidah bisa menembus waktu, tempat dan semua kepentingan. Ia abadi sampai Allah menghancurkan semua yang ada di langit dan di bumi.

Di akhirat nanti, komponen-komponen dalam ikatan keluarga atau keturunan tidak akan mampu saling tolong. Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), “pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS ‘Abasa : 33-37)

Adapun orang-orang yang ingi memutuskan tali agama Allah, ikatan mereka sangat rapuh. Meski di luar tampak merapatkan barisan, hati mereka sesungguhnya saling berseberangan. Apalagi kalau secara materi ada salah satu pihak yang merasa dirugikan. Permusuhan dalam bentuk yang paling kasar pun kerap tak bisa dielakkan. (Al-Hasyr : 14).

Sebaliknya orang-orang yang beriman, ikatan mereka kekal sampai ke surga. Mereka akan mendapatkan naungan Allah, saat tidak ada keteduhan dan perlindungan selain di bawah naungan-Nya. Pada hari kiamat mereka menempati mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya lantaran ikatan aqidah mereka di dunia. Orang-orang beriman duduk-duduk di dipan surga. Itulah akhir dari ikatan abadi.

11 Comments

Ujian Untuk Mengangkat Potensi

Alasan Allah menguji hambanya adalah karena hamba tersebut memiliki potensi spesifik untuk mengemban ujian tersebut. Maka ketika kita merasa memiliki banyak permasalahan, yakinilah bahwa kita adalah orang yang sabar. Ketika kita mendapatkan begitu banyak godaan untuk tidak ikhlas, maka yakinilah bahwa kita ini adalah orang yang ikhlas. Ketika kita mendapatkan begitu banyak kenikmatan, jangan lupa bahwa kita adalah seorang hamba yang pandai bersyukur. Ketika kita menghadapi begitu banyak pekerjaan melelahkan, yakinilah bahwa kita adalah seorang yang kuat. Tidak ada alasan untuk mengeluh! Allah menguji hambanya sesuai dengan kadar kesanggupan seorang hamba.(QS 2:286)

Hanya saja kadang potensi spesifik tersebut tertutupi oleh sifat kontradiktif yang dominan timbul dalam keseharian seorang hamba. Kadang-kadang ada hamba tidak sabar menghadapi problematikanya. Dan kita akui bahwa kuantitas dan kualitas masalah orang tersebut melebihi kita. Sayang ketidak sabaran menjadi sifat dominannya. Padahal maksud Allah memberi banyak masalah kepadanya adalah untuk mengangkat potensinya yang terkubur – atau istilah minangnya ‘batang tarandam’ – oleh sifat kontradiktif dominan yang biasa tampak padanya. Intinya, orang tersebut sebenarnya adalah orang yang penyabar, hanya saja penyabar belum menjadi identitas orang tersebut

Kenyataan tersebut kita dapatkan pada seorang sahabat bernama Ka’ab bin Malik. Ka’ab adalah seorang sahabat yang tertinggal dalam perang tabuk, bahkan karena merasa enggan karena sudah tertinggal jauh, Ka’ab memutuskan untuk tidak ikut serta dalam perang tabuk. Ketiadaan Ka’ab dalam perang Tabuk membuat gempar para sahabat. Dan ketika pasukan muslimin telah kembali, Ka’ab diminta menghada Rasulullah untuk mengemukakan alasan ketidak hadirannya.

Ketika dia harus menghadap Rasulullah, terjadi benturan dilematis dalam benaknya, antara mengeluarkan kemampuannya: berdalih hingga ia keluar dari permasalahan tersebut, atau berterus terang. Pada akhirnya ia berterus terang. Dengarlah pengakuannya, “Ya Rasul, demi Allah, umpama sekarang ini saya sedang duduk di depan seseorang selain engkau, pasti saya akan mengutarakan sejuta alasan untuk menyelamatkan diriku. Saya pandai berdebat Ya Rasul…”

Sejatinya Ka’ab adalah seorang yang jujur, sehingga ia diuji oleh Allah dalam keadaan dilematis untuk mengungkapkan kejujurannya. Sifat kontradiktif dominannya adalah – seperti yang telah ia akui – pandai berdebat. Lihatlah akhirnya potensi kejujuran itu terangkat dan ia menjadi seorang yang jujur. Itulah buah hasil ujian dari Allah.

“Ya Rasul, sesungguhnya Allah telah menyelamatkan saya karena kebenaran pengakuan saya, maka saya berjanji untuk kelanjutan taubatku, ‘Tidak akan berbicara selama hidupku, kecuali pembicaraan itu bicara yang benar.” Ungkap Ka’ab ketika rangkaian ujian berupa pengasingan telah berakhir menimpanya.

Maka sadarilah, ketika kita berdo’a “Ya Allah, jadikanlah aku seorang hamba yang sabar.” Maka Allah mengabulkan do’a kita: Kekuatan ketabahan kita bertambah. Hanya untuk menjadikan kesabaran itu sebagai sifat dominan, Allah mengirim rentetan masalah pada kita. Begitu juga ketika kita meminta pada Allah keikhlasan dalam beramal. Yakinilah Allah mengabulkan do’a kita dan kekuatan keikhlasan kita bertambah. Dan supaya keikhlasan itu menjadi identitas kita, maka Allah menurunkan banyak godaan dalam beramal. Untuk melawan itu semua dikerahkanlah bekal yang telah Allah tambahkan. Dan jadilah apa yang kita harapkan itu menjadi identitas kita.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.